Jum'at, 18 Januari 2019
Follow:
Home
Wisata Religi ke Masjid Al-Mashun Medan
Minggu, 31/05/2015 - 09:13:28 WIB
 
 

MEDAN - Masjid Raya Al-Mashun, Medan, hingga hari ini masih berdiri megah di tengah kota Medan. Jika libur Masjid ini ramai dikunjungi. Masjid ini adalah peninggalan bersejarah dari kerajaan Islam Melayu Deli, peninggalan Sultan Ma'moen Al Rasyid Perkasa Alam, penguasa ke-9 Kerajaan Melayu Deli yang berkuasa 1873-1924.

Masjid yang berdiri di atas lahan seluas 18.000 meter persegi ini berada di persimpangan Jalan Sisingamangaraja dan Masjid Raya Medan. Bangunan dengan perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, India dan Eropa di abad 18 tersebut, penuh arsitektur dan ornamen-ornamen kaligrafi di setiap sudutnya. Masjid Raya Al-Mashun ini tidak pernah sepi dari pengunjung, terlebih saat memasuki Ramadan.

"Jumlah pengunjung yang melakukan wisata dan beribadah di masjid ini bisa mencapai ribuan orang. Mulai dari pagi sampai pagi hari kemudian. Masjid ini juga sering didatangi wisatawan asing. Apalagi, setiap Ramadan, di depan masjid ini ada Ramadan Fair," ujar salah seorang pengurus masjid, Ridwan.

Selain melihat keindahan eksotik ruangan di dalam gedung, pengunjung juga akan disuguhkan sejarah peninggalan, termasuk Alquran berusia ratusan tahun.

Banyak hal membuat kita terkagum-kagum saat mengunjungi masjid yang dibangun pada 1906-1909 ini. Masjid ini berbentuk segi delapan dan memiliki sayap di bagian selatan, timur, utara, dan barat.

Biaya yang dikeluarkan untuk membangun masjid tersebut mencapai 1 juta gulden. Sultan membangun masjid itu lebih megah dari istana kerajaannya sendiri. Pendanaan pembangunan masjid itu dibantu tokoh etnis Tionghoa, yang tidak lain adalah Tjong A Fie. Masjid ini awalnya dirancang arsitek Belanda bernama TH Van Erp, yang saat itu sedang melakukan restorasi Candi Borobudur.

Pembangunan masjid ini pun dilanjutkan oleh JA Tingdeman. Bahan bangunan yang dipergunakan untuk membangun masjid itu pun meliputi marmer yang diimport dari Italia dan Jerman. Kemudian, kaca patri dari Cina dan lampu gantung dari Prancis. Tidak heran, corak bangunan itu megah berdiri dengan perpaduan gaya bangunan khas Maroko, Eropa, Melayu, dan Timur Tengah.

Setiap Ramadan, Masjid Raya Al-Mashun juga mempunyai tradisi lama peninggalan Sultan Ma'moen. Masjid ini menyajikan hidangan khusus yang mungkin tidak ada ditemukan di daerah lain. Hidangan buka puasa secara gratis ini disuguhkan kepada jemaah, fakir miskin, dan anak yatim piatu.

Masjid yang mampu menampung jemaah sekitar 1.500 orang tersebut menyuguhkan hidangan sop pedas dengan cita rasa rempah-rempah. Konon katanya, Sultan Ma'moen, saat menjadi raja melakukan hal itu di saat Ramadan.

"Hidangan yang disajikan itu bisa hampir mencapai seribu porsi. Lokasi ini semakin ramai bahkan padat saat Ramadan Fair, beragam kuliner disajikan buat pengunjung. Itu semua dikelola dinas terkait, tidak cuma-cuma seperti tradisi di Kesultanan Deli. Kepadatan pengunjung di lokasi itu karena diramaikan dengan artis-artis Ibu Kota," katanya.

Masjid Raya Al-Mashun ini dulunya satu kawasan dengan Kerajaan Melayu Kesultanan Deli. Saat ini, kerajaan itu dikenal dengan nama Istana Maimun. Jarak dari lokasi masjid dengan Istana Maimun sekitar 200 meter.*klik-zie. sumber: beritasatu.com





 
Berita Terbaru >>
Tetap Awet Muda, Ini Rahasia Ira Koesno si Pemandu Debat Capres
Berbeda Pendapat Sebuah Kewajaran, Tapi Tetap Ada Adabnya
Kejati Pimpin Serah Terima Tiga Kejari di Riau
Luhut Binsar Panjaitan Panen Raya dan Bagikan Sertifikat di Siak
Vanessa Angel Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Prostitusi Online
Aris 'Idol' Ditangkap Karena Penyalahgunaan Narkoba
Kunjungi Siak, Menko Kemaritiman Puji Sikap Patriot Sultan Syarif Kasim II
Pemko Pekanbaru Kembali Agendakan Relokasi PKL Teratai
Mandeh Run 2019 di Surga Wisata Tersembunyi
Dinas PUPR Dumai Hentikan Proyek Tanpa Izin
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com