Selasa, 22 Januari 2019
Follow:
Home
Di Kenya Ada Desa Khusus Wanita
Selasa, 18/08/2015 - 09:13:29 WIB
 
 

KENYA - Di Kenya, Afrika, ada sebuah desa bernama Umoja yang terletak di daerah padang rumput Samburu. Desa Umoja ini, tidaklah seperti desa pada umumnya. Komposisi penduduk desa Umoja hanyalah wanita dan anak-anak. Pagar berduri di sekeliling desa bagai mengisyaratkan lambang bentuk pertahanan para wanita desa Umoja akan dunia luar yang memberi kesengsaraan bagi mereka.

Sejarah berdirinya desa Umoja dimulai sejak tahun 1990. Saat itu, ada 15 wanita korban pemerkosaan tentara Inggris yang memutuskan untuk membuat kelompok dan bertahan hidup. Kini, 25 tahun berdiri, desa Umoja menjadi tempat perlindungan bagi wanita korban pernikahan anak-anak, mutilasi alat vital, kekerasan rumah tangga, dan pemerkosaan.

Seorang reporter The Guardian, Julie Bindel, berkesempatan untuk mengunjungi desa Umoja baru-baru ini. Ada 47 penduduk wanita dengan 200 anak-anak bermukim di dalam desa Umoja. Untuk penghasilan, para wanita penduduk desa Umoja biasanya membuat kerajinan tangan seperti kalung atau gelang dari material manik-manik yang dijual pada turis asing saat berkunjung ke daerah mereka.

Para penduduk desa Umoja meski sudah hidup bersama sesama wanita masih tetap rentan dengan tindak kekerasan. Selain itu, keputusan membuat desa dengan komposisi penduduk wanita banyak mendapat sorotan dan kritik oleh penduduk desa lainnya. Ketua desa Umoja seringkali menerima tindak kekerasan dari laki-laki yang berasal dari luar desanya.

Namun demikian, para wanita ini tetap mantap bersatu menjadi satu kelompok yang kuat. Salah satu tujuan para wanita penduduk desa Umoja adalah memberi pendidikan seksual yang selama ini dianggap tabu di Kenya. Isu seperti pernikahan anak-anak dan mutilasi alat vital, menjadi pendidikan yang difokuskan para wanita Umoja.

theguardian.com Para wanita penduduk desa Umoja biasanya membuat kerajinan tangan seperti kalung atau gelang dari material manik-manik yang dijual pada turis asing saat berkunjung ke daerah mereka.

"Di luar sana, wanita banyak diatur oleh pria sehingga mereka tak memiliki kesempatan dalam hal apapun. Sedangkan wanita di Umoja memiliki banyak kebebasan," ujar Seita Lengima, salah satu penduduk desa Umoja. Ada pula Judia, penduduk lainnya yang berkata, "Tiap hari saya bangun dan tersenyum pada diri sendiri karena dikelilingi bantuan yang layak dan dukungan dari lingkungan sekitar."

Salah satu yang membuat Bindel heran adalah adanya aturan berupa larangan para pria untuk tinggal di Umoja. Bindel berpikir, bagaimana mungkin mereka bertahan hidup dengan masih banyaknya anak-anak di sana? Pertanyaan Bindel terjawab lewat seorang wanita muda sambil tertawa yang berkata, "Kami masih menyukai pria. Mereka memang tak diijinkan tinggal disini. Namun kami ingin bayi dan wanita boleh memiliki anak meski tak menikah." Bagi wanita Umoja, mereka lebih baik tak menikah daripada tak memiliki anak. "Tanpa anak-anak, kami bukanlah apa-apa," ujar sang wanita muda.*klik/kompas.com

 
Berita Terbaru >>
Wajib Pajak Curang, Perbulan Pemko Pekanbaru Rugi Ratusan Juta
Tahun ini, DPKP Pekanbaru Rancang Panggilan Cepat Smart Rescue Madani
Mulai Sore Ini Supermoon Bisa Dilihat Diseluruh Indonesia
Semua Wilayah di Pedamaran Sudah Miliki Aliran Listrik
Perusahaan di Riau Diminta Bayarkan Gaji Sesuai UMP
Meranti Berpotensi Jadi Kota Jaringan Gas
Ghibah, Sikap Buruk yang Harus Dijauhi
Kisah Masyithah, Kisah Tentang Keteguhan Hati Perempuan
Tetap Awet Muda, Ini Rahasia Ira Koesno si Pemandu Debat Capres
Berbeda Pendapat Sebuah Kewajaran, Tapi Tetap Ada Adabnya
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com