Minggu, 24 Maret 2019
Follow:
Home
Merasakan Suhu di Bawah 5 Derajat Celcius di Papua
Selasa, 01/09/2015 - 05:31:37 WIB
  Foto: Elza Astari Retaduari  

PAPUA - Ngilu hingga mencapai tulang terasa karena udara dingin ekstrem. Suhu di bawah 5 derajat celcius membuat 3 lapis pakaian hangat masih terasa kurang.

Hal tersebut terjadi saat detikcom mengunjungi Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, beberapa waktu lalu. Berada di dekat Gunung Cartenz, membuat wilayah ini memiliki suhu udara seperti berada di Eropa.

Jika suhu normal saat malam biasanya sekitar 14-18 derajat celcius, kemarau ekstrem membuatnya turun hingga di bawah 5 derajat. Pasa suatu waktu, udara pernah mencapai suhu 1 derajat hingga akhirnya menyusul adanya beberapa kali hujan es di daerah ini

Celana training dobel, kaos kaki dan pakaian lapis 3 tak mampu menahan dinginnya udara. Rasa nyeri dan ngilu pun terasa hingga ke tulang atau bagian dalam tubuh. Airmata terasa hendak jatuh bagi mereka yang tak biasa merasakan udara sedingin ini. Apalagi bagi warga Jakarta yang terbiasa merasakan panas menyengat.

"Dingin banget. Udah berlapis-lapis baju masih aja tembus dinginnya. Biasa di Jakarta panas-panasan, ini dinginnya ampun-ampun. Nggak nyangka di Indonesia ada udara kayak di Eropa," ungkap seorang pewarta yang datang dari Jakarta bersama-sama detikcom, Dade Salampessy di Ilaga, Sabtu (15/8/2015).

"Saking dinginnya nafas kita keluar asap kalau lagi ngomong. Siang di sini panas terasa sampai terik, tapi angin kencang bikin dingin juga. Malam suhu bisa drop banget," sambungnya.

Memang tak banyak yang tahu bahwa Indonesia sebagai negara tropis ternyata ada wilayah yang memiliki suhu dingin yang cukup ekstrem. Hari itu, suhu pada malam hari sudah mencapai 4 derajat. Bahkan menurut personel Satgas Brimob yang bertugas di Ilaga, Bripka Bobby Latul, suhu pernah mencapai 1 derajat celcius.

"Mulai 2 minggu yang lalu memang ekstrem udara di sini, pernah sampai 1 derajat. Itu pas saya lagi jaga malam di pos," ungkap Bobby pada kesempatan yang sama.

Dinginnya cuaca membuat petugas pengamanan dan keamanan di Ilaga sampai mimisan hingga telinga berdarah. Mereka pun harus menyiasatinya agar tidak menjadi beku ketika harus berada di luar dalam kondisi dingin ekstrem.

"Rasanya itu pokoknya telinga sudah bunyi, pusing. Ada teman yang sampai mimisan. Tapi karena sudah kewajiban tugas jadi harus bertahan," kata Bobby yang merupakan komandan regu itu.

Mayoritas personel dari Satgas TNI dan Polri memang bukan asli warga Kabupaten Puncak. Sehingga awalnya mereka cukup kesulitan beradaptasi. Kondisi dingin tersebut membuat jaket merupakan barang wajib. Tak sedikit personel Polri maupun prajurit TNI yang memakai syal dan mantel meski sudah memakai rompi anti peluru sebagai peralatan tugasnya.

"Untuk menyiasati dingin kalau di luar kita buat api unggun, Sebenernya tidak boleh, tapi karena cuaca ekstrem apa boleh buat. memang ekstrem beberapa waktu terakhir dibanding sebelumnya," ucap Bobby yang sudah 7 bulan berada di Ilaga itu.

Sebenarnya bapak satu anak ini juga sudah pernah bertugas di wilayah pegunungan Papua lainnya. Namun menurutnya udara paling dingin berada di Kab Puncak. Terpaksa mandi pun dilakukan siang hari. Pasalnya di malam hingga menjelang pagi hari, air bisa berubah beku seperti ketika dimasukkan ke dalam freezer kulkas.

"Seelumnya sudah pernah tugas di Puncak Jaya, kalau sana mandi malam masih bisa. Di sini tidak bisa. Jadi kalau mau mandi harus siang, pas matahari sudah muncul," tuturnya.

"Cuaca ekstrem kayak gini bibir pecah-pecah. Sebelumnya walau cuacanya di bawah normal tidak bikin bibir peca-pecah," sambung Bobby. Pernyataan memang benar seban baik detikcom maupun beberapa orang dari Jakarta merasakan bibir pecah-pecah selama berada di Ilaga.

Kemarau berkepanjangan yang membuat suhu udara di Kab Puncak menjadi ekstrem diamini oleh seorang warga Ilaga, Wawan. Ia merupakan pendatang yang sudah belasan tahun menetap di sana.

"Cuaca ekstrem paling parah sekarang sejak saya tinggal di sini. Sampai kepala pusing, lama-lama mimisan. Saya sempat kayak itu. Kalau dingin berkurang mimisan sudah hilang dengan sendirinya," cerita Wawan menyambung pembicaraan Bobby.

"Menyiasatinya pakai jaket 4-5 dobel. kalau tidak duduk di dapur nyalakan kompor untuk menghangatkan badan. Kalau dingin gitu rasanya pengen cepet selesai kalau ada kegiatan, ini mengganggu semua aktivitas. Jadi bikin orang malas bergerak," imbuhnya.

Jika Anda ingin merasakan udara layaknya di Eropa namun tak sanggup mendaki Puncak Cartenz yang penuh salju abad itu, Kab Puncak bisa dijadikan alternatif. Hanya saja, bersiaplah dengan segala perlengkapan sehingga Anda mampu bertahan menghadapi udara yang sangat dingin.*klik-detik.com

 
Berita Terbaru >>
Makin Berat, Fredrich Yunadi Divonis MA 7,5 Tahun Penjara
KI dan Fitra Riau Gelar Bimtek Pengelolaan Informasi Berbasis Teknologi
PWI Riau Gelar Pelatihan Jurnalistik Wartawan Migas
Ada KPK Gadungan Coba Peras Keluarga Penyuap Romi
Upaya Padamkan Api, Water Bombing Sisiri Kawasan Karhutla di Riau
Kasus Duel Siswa dan Kepsek SMAN 2 Rakit Kulim Inhu Berakhir Damai
Waduh, 86 Hotspot Kepung Riau Hari Ini
Bantu Dana Pendidikan Daerah Tertinggal, Komunitas Anak Ceria Galang Dana di CFD
FPI Bantu Masyarakat Koto Aman yang Menunggu Nasib di Bawah Fly Over
Tertarik Cangkang Sawit, Pengusaha Jepang Temui Gubri
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com