Kamis, 17 Januari 2019
Follow:
Home
Ini yang Terjadi pada Paru-paru Akibat Menghirup Asap
Selasa, 27/10/2015 - 12:20:50 WIB
  kabut asap semakin menggila
 

Kabut asap akibat kebakaran hutan yang belum bisa ditangani di wilayah Sumatera dan Kalimantan menyebabkan puluhan ribu warga terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas), ribuan warga menderita iritasi kulit dan mata, dan ratusan lainnya sudah terkena pneumonia, bahkan korban jiwa berjatuhan.

Menghirup udara yang tercemar setiap hari tentu bukanlah sesuatu yang baik bagi kesehatan tubuh. Udara penuh dengan partikel dan gas yang dihasilkan dari pembakaran hutan. Partikel dan gas yang terkandung diantaranya adalah nitrogendioksida, sulfurdioksida, dan ozon yang terkandung dalam kabut asap.

Jika partikel dan gas tersebut terhirup, maka bisa menyebabkan iritasi di saluran pernapasan. Akibatnya, terjadi pembengkakan atau peradangan saluran napas yang merangsang produksi dahak.

Produksi dahak normal terjadi, ketika iritasi untuk membersihkan saluran napas ketika dahak dibuang. Namun, kabut asap yang terjadi berhari-hari dan terus terhirup membuat produksi dahak berlebihan. Inilah yang kemudian menyebabkan akumulasi dahak, kuman masuk, dan terjadilah ISPA.

Ketika ISPA tidak diatasi dan terus terpapar kabut asap, kuman akan menyebar ke saluran pernapasan bawah dan terjadilah pneumonia. Pneumonia ditandai dengan sulit bernapas, batuk berdahak, hingga demam. Kabut asap juga bisa memperburuk kesehatan orang-orang yang telah mengidap penyakit kronis.

Lantas, apakah paparan kabut asap bisa memberikan efek jangka panjang bagi kesehatan tubuh dan menyebabkan kanker paru? Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Persahabatan Agus Dwi Susanto mengatakan, secara teori bisa terjadi penurunan fungsi paru-paru jika teriritasi terus-menerus, karena terpapar zat berbahaya.

Selain itu, dalam kabut asap mengandung partikel m10 yang bersifat karsinogen. "Karsinogen itu bahan yang berpotensi kanker. Artinya, orang yang terpajan karsinogen bisa berisiko. Tetapi, sampai saat ini belum ada data yang menunjukkan bahwa terpajan kebakaran asap menyebabkan kanker," terang Agus di Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta, Jumat (2/10/2015).

Agus menjelaskan, untuk menjadi kanker paru butuh paparan karsinogen dalam waktu bertahun-tahun dan terjadi secara kontinyu, seperti pada seorang perokok. Sedangkan dalam kasus kabut asap, warga tentunya tak lagi terpapar karsinogen jika bencana kabut asap berakhir. Sebab, tubuh memiliki kemampuan untuk membersihkan paru ketika kembali menghirup udara segar.

"Secara fisiologi, tubuh punya kemampuan untuk membersihkan. Kalau orang-orang menghirup udara kotor, besoknya (menghirup) udara bersih, maka pembersihan tubuh akan bekerja," jelas Agus.

Meski belum ada data di Indonesia, penelitian di luar negeri mengungkapkan terjadinya kematian dini pada 1.000-2000 orang per tahun akibat sering terpapar polusi udara. (halloriau)

 
Berita Terbaru >>
Luhut Binsar Panjaitan Panen Raya dan Bagikan Sertifikat di Siak
Vanessa Angel Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Prostitusi Online
Aris 'Idol' Ditangkap Karena Penyalahgunaan Narkoba
Kunjungi Siak, Menko Kemaritiman Puji Sikap Patriot Sultan Syarif Kasim II
Pemko Pekanbaru Kembali Agendakan Relokasi PKL Teratai
Mandeh Run 2019 di Surga Wisata Tersembunyi
Dinas PUPR Dumai Hentikan Proyek Tanpa Izin
Tim Penasehat Hukum Mentahkan Dakwaan JPU, Agus Salim Harus Bebas Demi Hukum
Piala Adipura ke 4, Hadiah Manis untuk Syamsuar Sebelum Dilantik Sebagai Riau I
Rumah Tenun Kampung Bandar, Penghasil Kain Tenun Riau Sejak 2012
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com