Minggu, 21 Juli 2019
Follow:
Home
Tujuh Juta Lebih Warga Venezuela Ingin Lengserkan Presiden
Selasa, 18/07/2017 - 06:09:44 WIB
 
 

VENEZUELA - Lebih dari 7 juta warga Venezuela dilaporkan ikut serta dalam referendum tak resmi yang digagas kelompok oposisi pemerintah pada Minggu (16/7), waktu setempat.

Referendum simbolis itu digelar oposisi untuk semakin menekan Presiden Nicolas Maduro agar mundur dari kepemimpinan, sekaligus menjadi bentuk penolakan atas rencana sang pemimpin menulis ulang konstitusi negara.

Pemimin oposisi, Maria Corina, menganggap referendum pada akhir pekan itu sebagai sebuah keberhasilan rakyat.

"Tanggal 16 Juli menandakan kemenangan martabat dan kekalahan tirani. Kami telah menghasilkan mandat yang tak terbantahkan lagi untuk membangun Venezuela baru yang dimulai besok," tutur Corina.

Sebanyak 7,2 juta warga ikut serta dalam referendum tak resmi kemarin. Jumlah tersebut lebih rendah dari gelaran pemilu legislatif yang juga digagas oposisi pada 2015 lalu yang bisa meraup hingga 7,7 juta suara partisipasi.

Dari 95 persen surat suara yang telah terkumpul, terhitung sebanyak 98 persen pemilih menolak rencana pembentukan konstitusi baru, mendesak militer mendukung serta mempertahankan konstitusi negara yang sudah ada.

“Maduro telah melakukan semuanya dengan sangat buruk. Dan sekarang, melalui majelis konstituen yang tidak benar, dia ingin membeli waktu [mempertahankan kekuasaannya]. Namun, waktu dia telah habis,” ucap Rafael Betancourt, salah satu warga yang mendukung referendum.

“Ini adalah bukti bahwa orang-orang akan menendang siapapun yang menyebabkan kami [warga] kelaparan dan berada dalam keputusasaan,” tuturnya menambahkan.

Menurut akademisi dan pemantau referendum, sebagian besar pemilih juga mendukung digelarnya pemilihan umum sebelum masa kepemimpinan Maduro selesai, yakni sekitar awal 2019.

Pemungutan suara dibuka di sejumlah tempat publik seperti bioskop, lapangan olah raga, dan sudut-sudut jalan raya.

Pelaksanaan referendum tidak resmi itu pun diwarnai bentrokan di beberapa daerah seperti di Catia dan Caracas. Oknum bersenjata disebut melepaskan serangkaian tembakan ke arah kerumunan pemilih, menewaskan dua orang dan melukai empat lainnya.

Tidak hanya warga dalam negeri, diaspora Venezuela di luar negeri juga turut memilih dalam referendum tersebut, yang semakin menunjukkan penentangan rakyat terhadap kepemimpinan Maduro.

Sejumlah pegawai negeri yang selama ini ditekan pemerintah untuk tak ikut berpartisipasi juga berkeras untuk ikut memilih dalam referendum tersebut. Beberapa orang mencari cara kreatif agar tetap bisa memilih, seperti izin pergi keluar kota hingga menyamarkan diri.

Diberitakan Reuters, referendum ini seakan menjadi puncak dari demonstrasi besar-besaran yang tengah berlangsung sejak 1 April lalu yang kerap berakhir bentrok dengan petugas keamanan.

Sejauh ini, sekitar 90 orang tercatat telah tewas dalam bentrokan antara demonstran dan aparat.

Pihak berwenang juga mengatakan, sekitar 3.500 orang telah ditangkap dan 1.000 lainnya terluka akibat pergolakan politik dan ekonomi yang mendera negara di Amerika Selatan itu.***

Sumber: CNNIndonesia

 
Berita Terbaru >>
Satu Orang Komisioner Bawaslu Inhu Terancam Dipecat
Bunga Bangkai Ditemukan Warga Palupuh Agam di Pinggang Bukit
Hari Ini 17 Titik Panas Kembali Muncul di Riau
Belasan Rumah Hangus Terbakar di Pasar Umbut Kelapa Inhil
Duh, Komedian Nunung Sampai Berhutang Demi Narkoba
Kota Pekanbaru Raih Dua Penghargaan dari Kemen PPPA
Cegah DBD, Masyarakat Diimbau Jaga Kebersihan Lingkungan
Penganiaya Balita yang Makamnya Dibongkar untuk Autopsi Ternyata Ibu Kandung
ASITA Riau Tolak Program Umroh Digital
FW-KLA Diharap Mampu Bersinergi dengan Pemerintah
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com