Jum'at, 22 Februari 2019
Follow:
Home
'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak' Citra Baru Indonesia di Mata Dunia
Sabtu, 11/11/2017 - 12:17:43 WIB
  'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak'  

JAKARTA - Setelah rilis perdana di Cannes, film 'Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak' memilih berkeliling dunia ketimbang tayang di Indonesia. Namun, keputusan tersebut ternyata membuat pandangan dunia ke Indonesia berubah.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak memulai perjalanan keliling dunia dari Festival Film Cannes, Prancis, Mei lalu. Usai dari Cannes, Marlina pindah ke New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival pada Agustus.

Pada September, Marlina berpetualang ke Kanada, tepatnya Toronto Internasional Film Festival dan dilanjutkan dengan Vancouver International Film Festival.

Marlina kembali melanjutkan perjalanan ke Sitges International Fantastic Film di Catalonia, Spanyol. Lalu berpindah kembali ke Asia, tepatnya Busan International Film Festival di Korea Selatan.

Mouly Surya, sutradara Marlina mengakui dunia sedikit mengubah pandangan mereka tentang Indonesia usai menonton film yang dibuat atas kerja sama dengan Prancis tersebut.

"Kalau di luar negeri, Indonesia terkenal dengan masyarakat Muslim. Tapi film ini menampilkan kepercayaan Marapu, bukan Islam atau bahkan Kristen. Mereka banyak yang antusias bertanya tentang itu," kata Mouly di Jakarta.

Marapu merupakan kepercayaan lokal yang dianut lebih dari setengah masyarakat Sumba. Kepercayaan yang berupa pemujaan kepada leluhur ini mengajarkan kehidupan dunia hanyalah sementara dan setelah akhir zaman, penganut Marapu akan hidup kekal di dunia roh.

Mouly mengaku dia harus menjelaskan keberagaman Indonesia di depan para penonton di banyak negara.

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak merupakan kisah seorang janda di Sumba yang diperankan oleh Marsha Timothy. Dia mencari keadilan dengan memenggal kepala perampok yang memerkosanya.

Lewat ide cerita dari sineas senior Indonesia Garin Nugroho, Mouly membalut cerita Marlina dengan kultur masyarakat Sumba yang kental. Film fiksi itu dipoles lagi ala genre western.

"Ide western ini datang ketika saya ingat pelajaran kuliah dulu. Western itu semacam jagoan yang sendirian, dunianya punya jarak dengan hukum dan aparat karena sangat jauh atau personelnya sedikit," tutur Mouly.

Menurut Mouly, elemen western dapat membuat kisah Marlina lebih komunikatif.

Setelah mendapat sambutan hangat di luar negeri, Mouly berharap penonton Indonesia juga punya antusias yang sama ketika film ini tayang 16 November mendatang.

"Sangat berharap orang-orang Indonesia juga punya antusiasme terhadap Marlina," ujar Mouly.***/CNNIndonesia

 
Berita Terbaru >>
Karhutla Makin Meluas, Pemrov Riau Minta Bantuan Pusat
Mursini Gantikan Aziz Zaenal Jadi Ketua DPW PPP Riau
Bersama IBI, Disdalduk KB Pekanbaru Wujudkan Program KKBP
Edarkan Narkoba di Tapung, Suami Istri Ditangkap Polisi
15 Ton Ganja Siap Panen di Aceh Besar Dimusnahkan BNN
Dirpamobvit Polda Banten Ikuti Pelatihan Auditor Obvitnas di Jakarta
Syamsuar, Bupati Berprestasi Dilantik Jokowi jadi Gubenur Riau
Hoaks Pilpres Dibuat untuk Pengaruhi Sikap Politik Masyarakat
Ria Ricis Youtuber Wanita Pertama Asia Tenggara Raih 10 Juta Subscribers
Sekitar 200 Keluarga Terjebak di Kawasan ISIS di Suriah
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com