Selasa, 23 Oktober 2018
Follow:
Home
Lima Kepunahan Telah Berlalu, Kini Bumi Menunggu Kepunahan ke 6
Senin, 12/02/2018 - 09:38:17 WIB
  Dinosaurus yang telah punah dan para ahli menyelidiki fosilnya untuk mengetahui kapan zaman binatang ini ada di bumi
 

PLANET Bumi berdasarkan perkiraan batuan tertua, telah berumur sekitar 4,5 miliar tahun. Ilmuwan dari seluruh dunia menggunakan ilmu astronomi, geologi, kimia, biologi, arkeologi dan ilmu lainnya untuk menyelidiki pembentukan bumi serta muncul serta punahnya kehidupan di Bumi.

Sekitar 13,8 miliar tahun yang lalu, sebuah ledakan besar yang kita kenal sebagai Big Bang terjadi, dan miliaran tahun kemudian, memicu pembentukan berbagai benda di alam semesta kita.

Ledakan itu menghasilkan massa debu hidrogen yang padat, seperti awan; yang terbesar berubah menjadi matahari kita, sementara yang lebih kecil menjadi planet. Salah satu planet tersebut adalah Bumi kita.

Beberapa ilmuwan percaya sekitar 600 sampai 700 juta tahun kemudian, hujan meteor membombardir bumi, membawa serta sejumlah besar air dan asam amino. Hidup, dalam bentuk bakteri bersel tunggal, dimulai.

Sejak saat itu, bakteri telah berkembang menjadi bentuk yang lebih kompleks, meski berbagai makhluk kemudian menjadi punah.

Era Geologis

Ahli geologi membagi periode formasi bumi hingga masa sekarang berdasarkan pada perubahan yang terjadi pada masing-masing periode tersebut.

Kita saat ini berada di era Holosen, yang dimulai sekitar 11.700 tahun yang lalu saat Zaman Es berakhir.

Tapi baru-baru ini, sejumlah ilmuwan berpendapat bahwa karena uji coba bom nuklir tahun 1950-an dan ledakan populasi, manusia telah memasuki era baru, yang disebut Anthropocene.

Mereka berpendapat bahwa dengan populasi lebih dari tujuh miliar orang, aktivitas manusia telah secara drastis mempengaruhi alam dan kepunahan sejumlah satwa liar.

Bumi tidak asing dengan bentuk kehidupan yang hilang. Ada banyak periode kepunahan, dari saat organisme pertama muncul di Bumi hingga saat ini.

Namun, menurut catatan fosil, hanya lima era yang secara drastis mengurangi populasi mahluk hidup di bumi untuk bisa disebut kepunahan massal.

Periode kepunahan pertama

Memasuki awal hingga pertengahan periode Ordovician Era, Bumi masih hangat dengan tingkat kelembaban yang ideal untuk hidup. Namun, menjelang akhir periode – sekitar 443 juta tahun yang lalu – semuanya berubah mendadak, saat benua tua Gondwana mencapai di Kutub Selatan. Suhu turun drastis dan es terbentuk di mana-mana, dan menurunkan permukaan air.

Selanjutnya, tingkat karbon dioksida di atmosfer dan di laut turun, menyebabkan jumlah tanaman menurun secara dramatis dan kekacauan ekosistem terjadi karena tanaman tertentu, yang digunakan sebagai sumber makanan, menjadi langka.

Sekitar 86% populasi mahluk hidup menghilang dalam waktu tiga juta tahun kemudian. Beberapa organisme yang terkena dampak kepunahan pertama adalah Brachiopoda, Conodont, Acritarchs, Bryozons, dan juga Trilobita yang hidup di lautan.

Periode kepunahan kedua

Periode kepunahan kedua, selama Zaman Devon, terjadi sekitar 359 juta tahun yang lalu. Sebuah hujan meteor tanpa ampun diyakini menjadi salah satu penyebab kepunahan massal. Penyebab lainnya termasuk penurunan drastis tingkat oksigen secara global, meningkatnya aktivitas lempeng tektonik, dan perubahan iklim. Perubahan ini menyebabkan sekitar 75% mahluk hidup mati.

Kepunahan pada periode ini berdampak pada kehidupan di laut yang pada saat itu didominasi oleh karang dan stromatoporoida.

Periode kepunahan ketiga

Periode kepunahan ketiga, sekitar 251 juta tahun yang lalu, pada zaman Permian, adalah yang terbesar dan terburuk yang pernah terjadi di Bumi.

Pembentukan benua raksasa Pangaea menyebabkan perubahan besar dalam geologi, iklim dan lingkungan. Letusan gunung berapi yang terjadi di berbagai tempat di planet bumi selama 1 juta tahun melepaskan sekitar 300 juta kilometer persegi lava, dan sedimen lebih dari 1.750 meter terbentuk di Siberian Traps.

Letusan tersebut membakar hutan seluas empat kali ukuran Korea, menghasilkan sejumlah besar karbon dioksida yang menyebabkan pemanasan global. Akibatnya, metana beku di bawah laut meleleh, menghasilkan efek pemanasan global 20 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

Pemanasan global berlangsung selama kurang lebih 10 juta tahun. Kepunahan massal yang mengerikan tak terelakkan. Hanya 5% populasi kehidupan di Bumi yang selamat dan 95% tewas akibat kekeringan besar-besaran, kekurangan oksigen dan hujan asam yang membuat tanaman tidak dapat bertahan.

Periode keempat kepunahan

Periode keempat kepunahan terjadi sekitar 210 juta tahun yang lalu, pada Zaman Akhir Trias.

Pemisahan Pangaea yang lambat menyebabkan gunung berapi terbentuk di kawasan Magmatik Atlantik Tengah. Setelah lonjakan karbon dioksida di atmosfer, pemanasan global dimulai lagi, dengan para ilmuwan menduga bahwa hal itu berlangsung selama delapan juta tahun.

Hal ini menyebabkan terumbu karang dan Konodon, makhluk laut purba mirip belut menghadapi krisis serius. Makhluk terumbu karang tidak bertahan.

Hujan meteor juga mempercepat penghancuran pada periode ini: Sekitar 80% mahluk hidup, termasuk reptil punah, termasuk makhluk laut.

Selain itu, sejumlah makhluk yang hidup di darat yang punah pada periode ini adalah pseudosuchia, crocodylomorph, theropoda dan beberapa amfibi besar.

Periode kelima kepunahan

Periode kelima kepunahan terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu dan lebih dikenal sebagai kepunahan Kapur-Tersier. Itu adalah periode kepunahan massal tercepat, terjadi selama satu sampai 2,5 juta tahun.

Ini mungkin periode kepunahan massal yang paling dikenal karena ini saat dinosaurus disapu bersih dari muka bumi. Para ilmuwan percaya bahwa jatuhnya meteor di Teluk Meksiko saat ini ditambah dengan aktivitas vulkanik tinggi yang menghasilkan sejumlah besar karbon dioksida, membunuh separuh dari populasi hidup di bumi.

Bagaimana kepunahan massal di masa depan?

Beberapa ilmuwan percaya bahwa kita telah memasuki periode keenam kepunahan sejak 2010. Emisi besar karbon dioksida dari bahan bakar fosil telah mempengaruhi kehidupan banyak tumbuhan dan hewan. Para ilmuwan memprediksi bahwa ini akan mempengaruhi banyak bentuk kehidupan di Bumi dalam tiga sampai empat dekade ke depan.***Sumber: Mongabay.co.id

 
Berita Terbaru >>
Jenis Senyulong, Buaya yang Muncul di Sungai Siak Tidak Berbahaya
26 Ormas Melaporkan Aksi Pembakaran Bendera Berkalimat Tauhid di Garut
Tingkatkan PAD Online, KPK Kumpulkan Lima Kabapenda di Bank Riau Kepri
Gandeng IZI, Muslim PTPN V Sumbang Korban Bencana Lombok dan Sulteng
Masa Penahanan Ratna Sarumpaet Diperpanjang
Rampok Bersenpi Rampok Uang Ujang Rp500 di Kuansing
Berteriak, Gadis di Pelalawan Ini Selamat dari Percobaan Perkosaan
Cabuli Anak Tiri,‎ Seorang Petani di Desa Suka Maju Rohul Diltangkap Polisi
Cuek Pada Berita negatif, Cara David Beckham Jaga Pernikahannya
Hujan Meteor Bisa Disaksikan Dinihari Nanti di Langit Indonesia
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com