Kamis, 16 08 2018
Follow:
Home
Dolar AS Menguat Harga Harga Minyak Dunia Jatuh
Rabu, 02/05/2018 - 08:44:29 WIB
 
 

JAKARTA- Harga minyak dunia tergelincir lebih dari satu persen pada perdagangan Selasa (1/5), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu oleh penguatan dolar AS yang mengarah ke level tertingginya dalam empat bulan terakhir.

Kendati demikian, kekhawatiran terhadap peluang pengenaan sanksi AS kepada Iran menahan penurunan harga minyak lebih dalam.

Dilansir dari Reuters, Rabu (2/2), harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli merosot US$1,56 atau 2,1 persen menjadi US$73,13 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun US$1,32 atau hampir dua persen menjadi US$67,25 per barel.

Harga minyak mentah melanjutkan pelemahan pada perdagangan pasca penutupan (post-settlement) setelah Institute Perminyakan Amerika (American Petroleum Institute/API) merilis data persediaan minyak mentah pekan lalu yang menunjukkan peningkatan di luar perkiraan.

Kurs dolar AS melesat ke area positif pada tahun ini dan mematahkan beberapa level psikologis melawan beberapa mata uang utama dunia lainnya. Hal itu terjadi seiring melebarkan perbedaan proyeksi pertumbuhan dan tingkat bunga AS melawan negara lain yang membuat investor mendorong nilai kurs dolar lebih tinggi.

Sebagai catatan, semakin kuat kurs dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.

"Kekuatan dari dolar AS merupakan sumber tekanan (terhadap harga minyak) berasal," ujar Vice President Tradition Energy Gene McGillian.

Selanjutnya, risiko AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran juga dipertimbangkan oleh pasar. Namun, hal ini memberikan dorongan kepada harga minyak. Pasalnya, keluarnya AS dari kesepakatan akan memberikan konsekuensi berupa sanksi terhadap Iran yang mempengaruhi ekspor minyak mentah Iran.

Harga minyak mentah menanjak pada awal pekan ini seiring keluarnya pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terkait bukti-bukti adanya program senjata nuklir rahasia Iran. Teheran telah membantah tudingan tersebut.

Analis Petromatrix Oliver Jakob menilai pernyataan tersebut bukan merupakan sesuatu yang baru di mata pelaku pasar.

"Ini menunjukkan betapa pasar telah memasukkan faktor (price in) ekspektasi bahwa Trump tidak akan memperpanjang kesepakatan keringanan (sanksi nuklir Iran),' ujar Jakob.

Trump telah memberikan Inggris, Perancis, dan Jerman tenggat waktu hingga 12 Mei 2018 untuk memperbaiki kelemahan dari kesepatan yang dilakukan pada 2015 lalu itu. Jika tidak ada perbaikan, AS bakal kembali mengenakan sanksi terhadap Iran.

Kendati demikian, harga minyak dunia masih berada di jalur yang mengarah ke harga tertingginya dalam tiga tahun terakhir pada akhir April lalu. Beberapa analis menilai pasar sensitif terhadap perkembangan terkait sanksi Iran.

Lebih lanjut, pertumbuhan produksi minyak mentah AS dan persediaan telah membebani pasar. Sebelum dirilis data resmi, jajak pendapat Reuters meramal persediaan minyak mentah untuk pekan lalu bakal melonjak. Sementara, persediaan produk hasil kilang diperkirakan akan merosot. (cnn)

 
Berita Terbaru >>
Lima Pimpinan Bawaslu Kabupaten Kampar Dilantik di Jakarta
Sekda: Devisit anggaran Sebabkan Riau Alami Masa Sulit
Dumai akan Peringati Detik Proklamasi di Taman Bukit Belanggang
BRK Raih Platinum Award Kinerja Keuangan Sangat Bagus yang ke 10
Gempa Lombok Juga Memperlihatkan Ketangguhan Manusia
Alia, Rapper Manis Berhijab Asal Amerika
Hari Ini 103 Titik Panas Terdeteksi di Riau
Penderita DBD di Pekanbaru Capai 201 Kasus
Penjelasan BMKG Soal Cuaca Pekanbaru Sangat Panas
PWI Riau Serahkan Sumbangan untuk Korban Gempa Lombok
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com