Selasa, 19 Maret 2019
Follow:
Home
Dibangun Tahun 1400, Asasi Menjadi Masjid Tertua di Sumatera Barat
Jumat, 01/06/2018 - 18:26:20 WIB
 
 

PADANGPANJANG - Dibangun tahun 1400 M, Masjid Asasi yang terletak di Kota Padang Panjang, merupakan masjid tertua di Sumatra Barat. Masjid ini tertua kedua di Indonesia, setelah Masjid Saka Tunggal di Banyumas, Jawa Tengah, yang dibangun sekitar tahun 1200.

Sekilas bagian atapnya mengingatkan pada atap Masjid Agung Demak yang berbentuk limas tiga tingkat. Sementara bangunan utama yang berjendala dan penuh ukiran mirip dengan rumah adat Sumatra Barat, Rumah Gadang.

"Sesuai namanya, Asasi diambil dari asas yang berarti dasar atau sesuatu yang jadi tumpuan," kata guru Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) Masjid Asasi Datuk Pono Batuah.

Berdasarkan tulisan berjudul '10 Masjid Tertua di Indonesia' yang diterbitkan oleh Kementerian Agama, diketahui bahwa Masjid Asasi dibangun sekitar tahun 1400. Sejak awal berdiri, masjid ini merupakan pusat aktivitas Islam dari empat nagari (wilayah administratif).

Masjid Asasi dibangun atas gagasan dari empat nagari yaitu Gunung, Paninjauan, Tambangan dan Jawo di atas lahan sawah yang merupakan hibah dari masyarakat.

Selain dibangun masjid, lahan sawah juga dikelola bersama. Hasil dari sawah dibagi menjadi dua, setengah untuk pengelola sawah dan setengah untuk masjid.

"Sampai saat ini pola tersebut masih berjalan dengan luas sawah yang dikelola empat tumpak, semuanya berada di Nagari Gunung," kata Datuk Pono.

Datuk Pono menjelaskan bahwa masjid yang masuk dalam daftar Cagar Budaya ini sudah mengalami perbaikan dua kali tanpa mengubah bentuk aslinya.

Semula atap masjid berupa ijuk kemudian diganti menjadi atap seng. Dinding kayu di bagian dalam yang sudah lapuk juga ikut diganti. Terdapat pula perbaikan kecil pada ukiran, namun hanya 10 persen sehingga sisanya masih ukiran asli. Sementara itu lantai dan sembilan tiang kayu di ruang salat masih asli.

Salah satu kamar di Masjid Asasi masih menyimpan benda kuno seperti brankas peninggalan penjajah Belanda. Sayangnya tidak ada yang bisa membukanya sampai saat ini.

Di sisi masjid terdapat satu bangunan kecil menyerupai teras, yang berfungsi sebagai tempat tabuh atau beduk. Tabuh itu masih digunakan sebagai pengingat masuk waktu salat.

Datuk Pono menceritakan bahwa Masjid Asasi pernah beberapa kali dikunjungi oleh tokoh agama dari berbagai negara seperti Mesir, Maroko dan Thailand.

"Mereka selain datang untuk beribadah di masjid ini juga berbagi ilmu mengenai ajaran Islam," kata Datuk Pono.

Wisatawan banyak yang berkunjung ke masjid ini pada hari biasa sampai hari raya Islam.**/Sumber:CNNIndonesia

 
Berita Terbaru >>
Bantu Dana Pendidikan Daerah Tertinggal, Komunitas Anak Ceria Galang Dana di CFD
FPI Bantu Masyarakat Koto Aman yang Menunggu Nasib di Bawah Fly Over
Tertarik Cangkang Sawit, Pengusaha Jepang Temui Gubri
Pancing Hujan, 19 Ton Garam Disemai di Langit Riau
Ustadz yang Fitnah Pemerintah Legalkan Zina Dipulangkan
Bujuk Seorang Ayah Gendong Anak Hendak Bunuh Diri, Wabup Purwakarta Panjat Tower
Dewan Rapat Tertutup dengan Perwakilan Guru Sertifikasi Pekanbaru
Farida: Biar Saya Saja yang Dipenjara, Saya tak Mampu Bayar Uang Sekolah Anak
DPRD Gelar Sidang Paripurna dengan Agenda Pidato Sambutan Gubri Periode 2019-2024
Jawaban Pemerintah Atas Pandangan Fraksi Terhadap LKPj Kepala Daerah
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com