Rabu, 14 November 2018
Follow:
Home
Gempa Lombok Juga Memperlihatkan Ketangguhan Manusia
Selasa, 14/08/2018 - 22:44:21 WIB
  Akibat gempa di Lombok
 

LOMBOK - Gusti Agung Ary Suardana terpaksa meninggalkan keluarganya yang terdampak gempa tektonik 7 Skala Richter (SR) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, awal Agustus 2018. Ia melakukannya karena harus menjalankan tugas menjaga Pulau Gili Trawangan pasca gempa.

Demi tugasnya sebagai anggota Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) Mataram, Agung melawan rasa was-was yang meliputinya saat memikirkan anak dan istrinya di Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram.

"Sekarang istri dan anak-anak saya tinggal di teras dan bruga (balai) karena khawatir rumah ambruk jika terjadi gempa kembali," katanya, seperti yang dikutip dari Antara, Selasa (14/8).

"Saya was-was juga memikirkan keluarga, tapi ini tugas yang wajib, harus dilaksanakan demi kemanusiaan."

Bersama timnya, Agung tidur dengan perlengkapan ala kadarnya di Pantai Pelabuhan Bangsal, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Lombok Utara, karena belum berani menempati bangunan pos milik TNI Angkatan Laut di sana. Khawatir masih ada gempa susulan.

Setiap hari, Agung menyisir Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno untuk mengawasi dan memantau situasi pasca-gempa.

Ia menuturkan pengalaman terberatnya saat mengevakusi wisatawan asing dari Gili Trawangan dari Minggu (5/8) sampai Selasa (7/8), yang membuatnya tidak bisa beristirahat.

Menurutnya perjalanan tim menuju Pelabuhan Bangsal pasca gempa tidak mudah. Mereka sempat menghadapi longsoran tanah dalam perjalanan.

Setelah itu mereka harus menangani wisatawan asing yang berlomba-lomba ingin naik ke kapal evakuasi di Gili Trawangan.

Usai proses evakuasi itu, Agung bersama rekan-rekannya sempat membantu evakuasi di Masjid Jamiul Jamaah di Dusun Pansor, Pamenang, Lombok Utara, tempat orang-orang terjebak di reruntuhan masjid karena tengah beribadah saat gempa berlangsung.

"Semoga kondisi masyarakat yang terdampak gempa segera pulih baik secara mental maupun materiil," katanya.

Sementara itu sekumpulan relawan dari Gerakan Nasional Koin untuk Lombok, tiba di Desa Kekait, Gunungsari dan Sandiq untuk menyerahkan bantuan bagi korban gempa.

Para relawan tersebut membagikan bantuan logistik untuk korban gempa di pelosok-pelosok desa yang paling parah terdampak gempa.

"Mereka menyaluran makanan dan non-makanan untuk bayi seperti susu, biskuit, obat dan popok serta terpal," kata Amin Sudarsono, Koordinator Gerakan Nasional Koin untuk Lombok.

Mengatasi persoalan mendasar

Pada Sabtu (11/8), korban gempa di Dusun Tangga, perbukitan Gunung Rinjani, Lombok Utara, masih belum tersentuh bantuan pemerintah.

Sementara itu, korban gempa 7 Skala Richter (SR) di Desa Senaru, Lombok Utara, sudah bisa mengatasi ketiadaan air bersih setelah mendapatkan bantuan alat filter air dari relawan.

"Kita Sabtu kemarin, mendistribusikan dan mengajari warga Desa Senaru untuk menggunakan filter air supaya lebih praktis," kata Indriyatno, relawan lain yang juga dosen Program Studi Kehutanan Universitas Mataram.

Jadi, ia melanjutkan, dengan adanya alat filter air itu bisa mengurangi permasalahan ketiadaan air bersih selama ini yang menjadi kendala sehari-hari bagi korban gempa.

Sementara itu sekumpulan relawan dari Gerakan Nasional Koin untuk Lombok, tiba di Desa Kekait, Gunungsari dan Sandiq untuk menyerahkan bantuan bagi korban gempa.

Para relawan tersebut membagikan bantuan logistik untuk korban gempa di pelosok-pelosok desa yang paling parah terdampak gempa.

"Mereka menyaluran makanan dan non-makanan untuk bayi seperti susu, biskuit, obat dan popok serta terpal," kata Amin Sudarsono, Koordinator Gerakan Nasional Koin untuk Lombok.

Mengatasi persoalan mendasar

Pada Sabtu (11/8), korban gempa di Dusun Tangga, perbukitan Gunung Rinjani, Lombok Utara, masih belum tersentuh bantuan pemerintah.

Sementara itu, korban gempa 7 Skala Richter (SR) di Desa Senaru, Lombok Utara, sudah bisa mengatasi ketiadaan air bersih setelah mendapatkan bantuan alat filter air dari relawan.

"Kita Sabtu kemarin, mendistribusikan dan mengajari warga Desa Senaru untuk menggunakan filter air supaya lebih praktis," kata Indriyatno, relawan lain yang juga dosen Program Studi Kehutanan Universitas Mataram.

Jadi, ia melanjutkan, dengan adanya alat filter air itu bisa mengurangi permasalahan ketiadaan air bersih selama ini yang menjadi kendala sehari-hari bagi korban gempa.

Air minum itu cukup difilterkan tanpa harus dimasak mengingat sumber mata air yang putus.

Pendistribusian 20 unit filter air juga dilakukan di Desa Sokong Tanjung mengingat sanitasi yang rendah, sehingga menimbulkan ancaman diare dan muntaber.

Selain itu, ia menambahkan, pihaknya juga memperkenalkan WC kering atau toilet kompos. **/sumber: CNNIndonesia

 
Berita Terbaru >>
Pagar SDN 141 Pekanbaru Roboh, Satu Orang Meninggal Dunia
SKK Migas Raih Juara II Stan Terbaik Riau Expo 2018
Runway 2.600 Meter Bandara Internasional SSK Pekanbaru Diresmikan
Banjir Masih Jadi Ancaman di Beberapa Wilayah Riau
Inilah Kalimat Terakhir Khashoggi Sebelum Dibunuh di Konsulat Saudi
Peduli Bencana Sulteng, Pemkab Bengkalis Salurkan Bantuan Rp263 Juta
Dorong Pertumbuhan Wisata, Forwata Riau Eksplore Keindahan Rokan Hilir
Banjir dan Longsor di Pariaman, Dua Orang Tewas
Teuku Wisnu: Dari Glamour ke Zikir
Suap Meikarta, KPK Panggil Eks Presdir Lippo Cikarang
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com