Minggu, 21 Juli 2019
Follow:
Home
Saat Letusan Krakatau Tahun 1883, Tsunami Sampai Amerika Selatan
Minggu, 23/12/2018 - 20:15:02 WIB
 
 

JAKARTA - Terjadi erupsi sangat dahsyat dari gunung api Krakatau pada 26-27 Agustus 1883. Erupsi itu diikuti oleh gelombang tsunami dengan ketinggian hingga 30 meter di atas permukaan laut Selat Sunda. Sementara di pantai selatan Sumatera ketinggian gelombang mencapai 4 meter, di pantai utara dan selatan Jawa 2-2,5 meter.

"Gelombang tsunami juga terjadi di Samudera Pasifik hingga ke Amerika Selatan dengan ketinggian 1,5 - 1 meter," tulis Yudhicara dan K Budiono dalam artikel bertajuk 'Tsunamigenik di Selat Sunda: Kajian Terhadap Katalog Tsunami Soloviev' 10 tahun lalu. Tepatnya, paper kedua peneliti itu tercantum dalam Jurnal Geologi Indonesia Volume III, 4 Desember 2008.

Sementara ahli vulkanologi dari ITB, Dr.Eng. Mirzam Abdurrachman mengatakan, letusan Gunung Krakatau pada Agustus 1883 dimulai pada 26 Agustus dan mencapai puncaknya serta berhenti 20 jam kemudian pada 27 Agustus itu menewaskan 36.400 orang.

"Letusan Krakatau kala itu juga menghasilkan kaldera berukuran 4x8 km, dan aliran wedus gembel sejauh 40 km dari titik letusan," tulis Mirzam seperti dikutip dari itb.ac.id, 31 Agustus 2018.

Selain pada 1883, sebuah kitab Jawa kuno yang berjudul "Book of Kings" (Pustaka Radja) mencatat pada tahun 416 ada beberapa kali erupsi dari Gunung Kapi yang menyebabkan naiknya gelombang laut dan menggenangi daratan hingga memisahkan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa.

"Gunung Kapi ini diyakini sebagai Gunung api Krakatau saat ini," tulis Yudhicara dan K Budiono.

Raden Ngabahi Ranggawarsita pada 1869, menurut Mirzam, memang menyebutkan bahwa pada tahun Saka 338 atau 416 telah terdengar suara gemuruh disertai hujan dan badai. Krakatau Purba menghilang menyisakan pulau-pulai kecil dan secepatnya disusul oleh gelombang laut yang tinggi, tsunami menghantam pesisir Lampung dan Jawa Barat.

"Pulau Sertung, Panjang dan Rakata terbentuk dari hasil letusan dahsyat Karakatau Purba yang terjadi sekitar awal abad 5 atau 6," kata Dr. Mirzam.

Namun, penelitian selanjutnya tidak mencatat adanya bukti-bukti geologi yang cukup akan adanya letusan besar tahun 416. Sebaliknya sekitaran tahun 535-536 terjadi perubahan iklim yang ekstrim. Beberapa tumbuhan mengalami pertumbuhan yang lambat, ditemukannya kandungan sulfur yang tinggi pada bagian inti dari es di Islandia atau antartika, musim panas yang bersalju pada Bumi belahan utara sehingga masa itu dikenang sebagai Volcanic Winter, serta adanya beberapa peradaban yang berakhir disekitar waktu tersebut.

"Jadi apakah 416 atau 535? Sekarang banyak peneliti sedang mendalami dan mencari bukti guna mendapatkan jawaban yang lebih akurat. Kapan pun itu, kita patut besyuskur karena letusan 416 atau 535 jauh lebih dasyat dari letusan 135 tahun yang lalu atau tepatnya 26-27 Agustus 1883," ungkapnya.***/sumber: detik.com

 
Berita Terbaru >>
Satu Orang Komisioner Bawaslu Inhu Terancam Dipecat
Bunga Bangkai Ditemukan Warga Palupuh Agam di Pinggang Bukit
Hari Ini 17 Titik Panas Kembali Muncul di Riau
Belasan Rumah Hangus Terbakar di Pasar Umbut Kelapa Inhil
Duh, Komedian Nunung Sampai Berhutang Demi Narkoba
Kota Pekanbaru Raih Dua Penghargaan dari Kemen PPPA
Cegah DBD, Masyarakat Diimbau Jaga Kebersihan Lingkungan
Penganiaya Balita yang Makamnya Dibongkar untuk Autopsi Ternyata Ibu Kandung
ASITA Riau Tolak Program Umroh Digital
FW-KLA Diharap Mampu Bersinergi dengan Pemerintah
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com