Kamis, 28 Mei 2020
Follow:
Home
Kisah Fatimah, Putri Bungsu Kesayangan Nabi Muhammad SAW
Minggu, 26/04/2020 - 11:47:45 WIB
  Ilustrasi
 

PEKANBARU - Fatimah merupakan putri bungsu kecintaan ayahnya. Fatimah disebut memiliki keistimewaan daripada para istri Nabi sekalipun. Dia pun menjadi salah satu wanita yang kelak akan menjadi pemimpin wanita paling utama di surga, selain ibunya, Khadijah al-Kubra, Maryam binti Imran (ibunda Nabi Isa AS), dan Asiyah binti Muzahim (istri Fir'aun).

Allah SWT telah menjanjikan surga kepada Fatimah. "Pemuka wanita ahli surga ada empat: Maryam binti Imran, Fatimah binti Rasulillah shallallahu 'alaihi wa sallam, Khadijah binti Khuwailid, dan Asiyah." (HR Muslim).

Ayahandanya amat menyayanginya. Dia akan terluka jika Fatimah terluka, sekaligus murka ketika bungsunya itu murka. Larangan kepada Ali untuk menikah lagi selagi Fatimah masih hidup merupakan bentuk penghormatan Rasulullah sehingga tidak ada sesuatu pun yang menyakiti hatinya.

Tetapi Fatimah juga punya permintaan terkait suaminya yang kelak menjadi satu dari empat khalifah. Fatimah ingin suaminya menikah lagi jika dia sudah tidak ada, sehingga bisa meneruskan tugas terkait Islam dan mengasuh putra mereka.

Ali sepeninggal Fatimah menikahi Umamah, anak perempuan dari salah seorang saudaranya, yang dikenal menyayangi Hasan dan Husain. Anak Fatimah Az Zahra dengan Ali selain Hasan dan Husain adalah Muhsin, Zaynab, dan Ummu Kultsum.

Fatimah meninggal di usia 29 tahun atau 6 bulan setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Dia dimakamkan pada Kamis 20 Ramadhan di pemakaman Jannat al-Baqee.

Mandiri

Fatimah sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah sendiri ketika usianya masih belum genap lima tahun. Fatimah pun sering keluar menemani ayahnya mengelilingi sudut Makkah. Saat ayahnya menjadi Rasul, Fatimah menjadi pembelanya.

Fatimah selalu menemani, membantu, dan melindungi ayahnya setelah menerima Islam. Fatimah dikisahkan melihat `Uqbah ibn Abi Mu`ayt menaruh isi perut binatang di punggung Rasulullah saat sedang sujud. Sambil menangis, Fatimah lari dan membersihkan kotoran tersebut dari punggung Rasulullah. Dia kemudian berkata tak perlu menangis karena Allah SWT akan memenangkan Islam dari musuhnya.

Fatimah juga melihat orang tuanya diisolasi di Shi'b Abi Talib yang seperti penjara di tengah gurun pasir. Selama tiga tahun, Fatimah dan orang tuanya hanya bisa makan daun-daunan bersama para muslim dalam penjara tersebut. Di usia 16 tahun, Fatimah kaget saat tahu kondisi ibunya hingga meninggal 2-3 bulan kemudian usai periode penjara.

Fatimah juga harus menyaksikan ayahnya hijrah lebih dulu ke Madinah meninggalkannya sendirian di Makkah. Pertimbangannya, membawa Fatimah membuat rombongan hijrah makin besar hingga mudah diketahui Quraisy. Hal ini berisiko buruk bagi keselamatan Nabi Muhammad SAW dan Fatimah, sehingga dia pergi bersama rombongan berikutnya. Di usia 18 tahun, Fatimah juga menyaksikan ayahnya memiliki pendamping lain sepeninggal Khadijah.

Kemudian tawaran pernikahan mulai diterima Fatimah dari para sahabat Nabi Muhammad SAW. Pilihan Rasulullah SAW jatuh pada Ali yang melamarnya lewat pelindung tubuh saat perang seharga 250 dirham. Uang tersebut untuk membeli mas kawin dan keperluan pernikahan lainnya.

Pasangan Ali dan Fatimah hidup seadanya, dengan pekerjaan sebagai pembawa air serta pembuat roti. Suatu hari, Ali mengeluh punggungnya sakit sedangkan Fatimah merasakan hal yang sama pada tangannya. Keduanya kemudian pergi ke rumah Nabi Muhammad SAW untuk meminta seorang budak. Rasulullah SAW menolak permintaan tersebut dan mendatangi rumah keduanya.

Saat itu Ali membukakan pintu sedangkan Fatimah masih di tempat tidur. Nabi Muhammad SAW kemudian duduk di antara mereka dan menyarankan membaca Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali menjelang tidur. Nabi Muhammad SAW mengatakan, kebutuhan mereka akan terpenuhi atas izin Allah SWT. Ali kemudian mengatakan, kekuatan mereka meningkat hingga tak perlu lagi budak atas izin Allah SWT.

Menjelang usia 28 tahun berbagai pengalaman hidup memperkuat karakter Fatimah sebagai pribadi yang dewasa, sabar, dan bijak. Di usia ini, Fatimah juga harus menghadapi kehilangan Rasulullah SAW.

Suatu kali Fatimah diminta mendekatkan telinganya pada Nabi Muhammad SAW untuk mendengar yang dikatakan. Nabi dikisahkan mengatakan waktu meninggalnya sudah dekat dan Fatimah akan menyusul dalam waktu tidak lama. Fatimah juga dijanjikan surga bersama Khadijah, Asiyah, dan Maryam. Fatimah kemudian menyaksikan ayahnya berpulang.***

 
Berita Terbaru >>
Maiyuni: Kecil Tapak Tangan, Nyiru Kami Tadahkan
Kuasa Hukum Harap Hakim Tidak Membatasi Jumlah Saksi
Zufra: Lengkapi Dokumen, Lapor ke Mendagri
Bappeda Riau Sebut Akan Mengkaji Ulang
Gubri: Hindari Terpapar Covid-19 Masyarakat Sebaiknya Salat Idul Fitri di Rumah
Surat Perjalanan Khusus Warga Masuk Riau akan Diverifikasi Ulang
Harimau Sumatera Mati di Lahan Konsesi Arara Abadi dengan Kaki Terjerat
5 Fraksi Minta PKS Ganti Hamdani Jadi Ketua DPRD Pekanbaru
Antar 150 Paket Tajil dan Buka Puasa untuk Anak
Hendry: Hakim Langgar Kode Etik dan Tertib Hukum Acara Perdata
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com