Minggu, 25 Oktober 2020
Follow:
Home
Pemerintah Kota Seattle Terapkan Larangan Pakai Sedotan Plastik
Kamis, 05/07/2018 - 09:41:03 WIB
 
 

AMERIKA SERIKAT - Seattle menjadi kota besar pertama di Amerika Serikat yang melarang penggunaan sedotan plastik dan peralatan makan plastik. Hal ini menjadi sebuah 'kemenangan' bagi para pecinta lingkungan di kota tersebut.

Hanya saja hal ini diungkapkan akan sangat sulit diterapkan di tempat lain di Amerika Serikat. Meski demikian, baru beberapa resor pantai yang berani mengambil langkah tersebut. Salah satunya resor di Malibu pada bulan lalu.

Setelah menargetkan kantong plastik, kali ini para pecinta lingkungan telah menetapkan bahwa sedotan plastik juga menjadi musuh publik.

Sebenarnya politisi kota mengadopsi larangan tersebut pada 2008 lalu. Namun pemilik restoran butuh waktu bertahun-tahun untuk mencari alternatif sedotan plastik dan peralatan makan plastik.

Dengan adanya aturan baru ini, mulai 1 Juli 2018, setiap pelanggaran akan dikenakan denda sebesar US$250.

Mengutip AFP, AS sendiri masih terbilang gagal untuk menerapkan aturan tersebut. Di Hawaii misalnya, pantai sebagai penggerak sektor pariwisata yang berkembang pesat ini masih gagal untuk mengurangi penggunaan plastik.

Bukan cuma di Amerika, di Asia dan Afrika juga sudah memulai gerakan ini.
Pertempuran dengan kantong plastik sudah dilancarkan lebih dari satu dekade lalu.

Meskipun ini masih dalam tahap awal, namun setidaknya ada dorongan global untuk melarang penggunaan sedotan. Hal ini mulai disoroti setelah menganalisis dampak abadi pada mahluk-mahluk laut yang sering menelan plastik yang dibuang ke laut.

Beberapa waktu lalu video kura-kura yang terlihat kesakitan dan berdarah setelah menelan sedotan plastik yang tertancap di hidungnya. Video ini jadi viral sejak 2015 lalu.

Baru-baru ini, foto seekor kuda laut yang membawa cotton bud bergagang plastik di ekornya juga menjadi viral.

Menurut Pusat Penelitian Ilmiah Helmhotlz di Jerman, sekitar 90 persen plastik yang ditemukan di lautran dunia berasal dari 10 sungai besar. Delapan di antaranya adalah sungai di Asia dan dua lainnya di Afrika.

"Jika Anda ingin punya dampak besar dalam waktu yang pendek, maka hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membantu negara-negara untuk mengumpulkan limbah dan mengelola limbahnya dengan tepat," kata Kara Lavender Law, profesor penelitian oseanografi di Sea Education Association.**/Sumber: CNNIndonesia

 
Berita Terbaru >>
Madu Bisa Jadi Pengganti Gula Dalam Masakan
Gubri Minta Pos Check Point Perbatasan Kembali Diaktifkan
Gita Wirjawan : Kualitas Informasi Faktor Penentu Perjalanan Sebuah Bangsa
Bantuan Pendidikan Rumah Yatim untuk Anak-anak di Desa Dosan Siak
Gelar Workshop, SDN 008 Rimba Beringin Siap Terapkan Kurikulum Darurat
Panen Jagung di Palas, Gubri: Riau Kini Menuju Swasembada Pangan
Ketua JMSI Riau Dampingi Gubri Panen Jagung di Palas
SAH Jadi Ketua DPD Nasdem Pekanbaru, Abu Bakar Sidik Terima SK dari DPP
Kasus BBM Palsu dan Penyuapan PT AMNI 'Ngendap', Pengacara Rina Winda Kembali Buat Surat Aduan
BBKSDA Riau Pasang Perangkap Beruang di Perusahaan Sawit
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com