Jum'at, 16 April 2021
Follow:
Home
Awal Pekan, Rupiah Terkapar Rp14.608 per Dolar AS
Senin, 13/08/2018 - 16:48:20 WIB
 
 
KLIKRIAU.COM- Rupiah menghadapi tekanan hebat. Pada perdagangan awal pekan ini, rupiah ditutup di posisi Rp14.608 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut melemah 130 poin jika dibandingkan dengan sesi penutupan perdagangan akhir pekan kemarin yang berada di level Rp14.478 per dolar.

Bersama rupiah, hampir seluruh mata uang di kawasan Asia ikut rontok dari dolar AS. Rupee India melemah 1,29 persen, renmimbi China minus 0,47 persen, dan won Korea Selatan minus 0,44 persen.

Kemudian, peso Filipina melemah 0,29 persen, dolar Singapura minus 0,2 persen, baht Thailand minus 0,17 persen, dan ringgit Malaysia minus 0,16 persen.

Namun, yen Jepang berhasil menguat 0,44 persen. Begitu pula dengan mata uang negara maju.

Dolar Australia melemah 0,37 persen, euro Eropa minus 0,26 persen, rubel Rusia minus 0,23 persen, poundsterling Inggris minus 0,13 persen, dan dolar Kanada minus 0,11 persen. Hanya franc Swiss yang menguat 0,05 persen.

Analis sekaligus Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan sentimen krisis keuangan di Turki menjadi penyebab utama terkaparnya rupiah di zona merah. Namun, sejatinya ada pula pengaruh dari negara lain.

"Termasuk juga pengaruh dari memanasnya perang dagang AS-China, sanksi kepada Rusia, dan hasil pertemuan Uni Eropa dengan Inggris terkait Brexit yang tidak ada titik temu," jelasnya, Senin (13/8).

Dari dalam negeri, rilis defisit neraca transaksi berjalan turut menambah pelemahan rupiah. "Ini sudah komplikasi, kalau situasi ini berlanjut, rupiah bisa ke Rp14.800 per dolar AS," katanya.

Kendati begitu, Ibrahim menilai rupiah tak akan terkapar terlalu lama dalam beberapa waktu ke depan. Sebab, bank sentral nasional dipastikan segera melakukan intervensi dengan menggelontorkan cadangan devisa (cadev).

Namun, penggunaan cadev itu memang mau tidak mau membuat jumlahnya tergerus. Pasalnya, kebijakan pemerintah yang berencana memaksimalkan penggunaan biodiesel dan pariwisata Indonesia tak akan berbuah cepat.

Meski begitu, Ibrahim menilai kondisi ini tidak membuat Indonesia rentan terseret krisis Turki. Hal ini karena secara fundamental, ekonomi Indonesia masih cukup kuat dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,27 persen pada kuartal II 2018.

"Indonesia masih jauh dari krisis," tekannya.

Lebih lanjut, sepanjang pekan ini, Ibrahim memperkirakan rupiah berada di ikisran Rp14.00-14.550 per dolar AS bila intervensi rupiah cukup jor-joran. Namun bila tidak, rupiah bisa menyentuh kisaran Rp14.700 per dolar AS. (*)

CNN Indonesia

 
Berita Terbaru >>
Vaksinasi Covid-19 Malam Hari Diprioritaskan untuk Lansia
PPKM Diberlakukan Wako Minta Pemetaan RW Zona Merah Tuntas
Rumah Yatim Riau Bagikan Paket Hdangan Buka Puasa
Ketum APJP Migas Sampaikan Peluang Bisnis Blok Rokan ke Wali Kota
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Diusulkan Jadi Kemendikbudristek
Akun Resmi Fanpage Facebook Ustadz Abdul Somad Raib
Manfaatkan Lahan Tidur, Gubernur Riau Panen Labu dan Jagung
Ketum JMSI Buka Rakerda Pengda JMSI Aceh
Rayakan Harlah ke-75, Muslimat NU Riau Bagikan Ratusan Paket Sembako
Jusuf Kalla dan Sandiaga Uno Jadi Pembicara Pada Dare to be a Leader and Entrepereneur Puskar UIR
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com