Jumat, 24 Juli 2026
Follow:
Home
Kisah dari Panti Jompo (2)
Marwah dan Sorga yang Dicampakkan
Sabtu, 12 September 2020 - 15:05:58 WIB
 
 
TERKAIT:
   
 
KECANTIKAN masa muda masih terukir di wajah tuanya yang terlihat awet. Sudah 72 tahun tapi kerut merut belum memenuhi wajahnya yang teduh, dengan tahi lalat dekat hidung. Masih seperti perempuan 60-an. Fisiknya tegap, kuat berjalan dan tangannya lincah, memainkan jarum untuk rajutan.

Tapi dia terdampar di sini,  di sebuah Panti Jompo di Kota Pekanbaru, sendiri dan sepi dari kasih sayang keluarga. Makna namanya pun cantik, Cahaya Dunia. Hanya nasibnya tak beruntung. Perempuan yang membesarkan 3 anak dengan berjualan gorengan, kini seolah terbuang.

"Saya tak mau merepotkan anak dan menantu, biarlah saya di sini. Sesekali ada anak datang, sekedar memberi belanja," katanya lirih, suara yang tak  seperti ucapannya, mengibakan hati yang mendengar. 

Maya, perempuan itu, ternyata berasal dari Minangkabau, tepatnya Batusangkar. Negeri matriakat yang memberikan harta ulayat untuk perempuan. Semiskin-miskin perempuan Minang tentu dia masih memiliki sepetak tanah untuk pulang.

"Ada tanah pusaka, tapi sudah sama saudara," katanya sambil menunduk dan memainkan jari tangan. 

Cerita Maya, suaminya meninggal tahun 1990-an, ketika anak bungsunya atau anak ketiga masih berusia 4 bulan. Tak ada rumah, tak ada harta yang ditinggalkan, suaminya hanya pedagang kecil. Dunia serasa runtuh bagi Maya. Tapi dia harus bertahan, untuk 3 anak, yang jadi tanggungannya seorang. 

Maya pun memulai hidup baru, berjualan gorengan hingga donat. Menompangkannya di kedai-kedai dan menjajakan di sekitar kediamannya, di Marpoyan, Pekanbaru. Dia dayung hidup sendirian, agar anaknya bisa makan, bisa sekolah. Hingga pelan tapi pasti waktu bergulir, tua mengejar dan anak-anak mendewasa.

"Ekonomi anak-anak juga susah, saya tak mau jadi beban, ketika ada yang menawarkan tinggal di sini saya terima.  Tempat tinggal, makan minum dan kebutuhan pokok lainnya sudah ditanggung panti," katanya. 

Tapi itu kata mulut Maya. Hatinya siapa yang tau. Dua anak perempuan dan satu anak laki-laki dia punya, dibesarkan dengan tetesan air mata, keringat dan kerja membuat gorengan. Bahkan si bungsu masih disusuinya,  sambil tangan mengaduk gorengan. 

"Saudara satu dua kali bisa dimintai bantuan, setelah itu tak mungkin lagi," ujar Maya.

Entahlah, Maya adalah marwah bagi kaumnya, di ranah minang sana dan sorga bagi anak-anaknya. Tetapi marwah dan sorga itu tercampakkan, dalam hidup yang tidak berpihak. Mungkin dia senang di di sini, cukup makan, ada tempat tinggal, tapi dia adalah sorga bagi anak-anaknya, doanya di dengar Yang Maha Kuasa. Air susunya tak terbalaskan. 

"Sayang saya tak sempat punya rumah, makan dan sekolah anak lebih penting," kalimat terakhirnya serasa menggetarkan jagad raya. Bukankah itu suara terdalam sanubarinya?

Ya, andai Nek Maya punya rumah tentu dia tak terdampar di sini. Dia masih kuat, masih bisa merajut dan membuat gorengan. Jika ada rumah, mungkin dia akan memilih di rumah, meski sendiri, meski sepi. **/diamanda/(bersambung).

 
Berita Terbaru >>
Dukung Operasi Migas Berkelanjutan, SKK Migas dan KKKS Sumbagut Dalami Regulasi Lingkungan
PT Selaras Abadi Utama Salurkan Bantuan Lintas Sektor untuk Masyarakat di Kecamatan Pelalawan
Wamendikdasmen Tinjau Revitalisasi SLB dan Digitalisasi Pendidikan Inklusif
Bupati Siak Perjuangkan Hak DBH bagi Daerah Penghasil SDA
Ketua Umum SMSI Kukuhkan Pokja Newsroom Jaga Desa di Lampung Mengawal Desa, Mencegah Jaksa
Kericuhan Pecah di DPRD Riau, Pendukung Dua Anggota Dewan Terlibat Bentrok Fisik
Menambah Daya, Menjaga Produksi: Kisah di Balik Penguatan Kelistrikan Lapangan Libo Zona Rokan
Penguatan AD/ART, PWI Pusat Sosialisasi Lima PO
Kajati Riau Tunjuk Dodi Wiraatmaja Jadi Plt Kajari Bengkalis
Perkuat Timnas Olimpiade Sains Tingkat Internasional, Dua Siswa MAN 1 Pekanbaru Siap Berlaga di Turki dan Vietnam
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2025 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : [email protected]