Jum'at, 27 November 2020
Follow:
Home
Bekerja dengan Ikhlas Bisa Jadi Amal Penghapus Dosa
Senin, 26/10/2020 - 08:13:21 WIB
 
 

PEKANBARU - Islam sangat menghargai orang yang bekerja. Baik yang berkaitan dengan upaya mencari penghidupan maupun yang berhubungan dengan peran sosial seseorang di tengah masyarakat. Rasulullah SAW menempatkan bekerja mencari nafkah sebagai amal yang dapat menghapus dosa.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu 'Asakir ra, Rasulullah SAW menegaskan: "Sesungguhnya di antara dosa itu ada dosa yang tidak dapat dihapus oleh shalat, puasa, haji, dan umroh, tetapi dapat terhapus oleh lelahnya seseorang dalam mencari nafkah."

Dalam hadits yang lain,  Rasulullah SAW juga menegaskan seseorang yang membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar, kemudian memikul ke pasar, lalu menjualnya adalah lebih baik daripada ia harus meminta-minta. (HR Bukhari-Muslim).

Dari dua hadits di atas, kita dapat memahami betapa Islam sangat menghargai seseorang yang mau bekerja, mau bersusah payah mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Sehingga, pekerjaan apa pun, selama tidak melanggar syariat Islam, yang dikerjakan dengan bersungguh-sungguh dan penuh keikhlasan, dinilai sebagai ibadah di sisi Allah SWT.

Dalam sejarah kita melihat bagaimana hebatnya prestasi kerja para sahabat Rasulullah. Di antara mereka ada yang berdagang, bertani, dan menjalani berbagai pekerjaan halal lainnya. Mereka melakukan pekerjaan itu dengan penuh dedikasi dan semangat tinggi, di sela-sela perjuangan mereka menegakkan agama Islam.

Tidak heran jika kemudian mereka terkenal sebagai generasi yang di siang hari bagai singa, tetapi di malam hari mereka laksana rahib-rahib. Mereka adalah generasi yang mampu memadukan kesungguhan dalam bekerja dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah SWT.

Tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk berleha-leha, bermalas-malasan, atau bahkan tidak mau bekerja.

Atau, mengeluh karena banyaknya pekerjaan yang dilakukan. Allah SWT memperingatkan: "Dan katakanlah, 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu'." (QS At-Taubah: 105).

Pekerjaan yang dilakukan seseorang, di samping merupakan kewajiban hidup yang harus dijalankan, juga merupakan bukti eksistensinya di tengah-tengah kehidupan sosial. Dengan pekerjaan itu seseorang akan dinilai oleh masyarakatnya.

Orang baik-baik atau orang jahatkah ia, bergantung pada apa yang dia kerjakan. Sebagai contoh, seseorang dikatakan sebagai pahlawan, pembangun, atau tokoh masyarakat, karena apa yang ia kerjakan membawanya kepada sebutan itu.

Sebaliknya, sebutan penjahat atau koruptor tidak akan dialamatkan kepada seseorang, kecuali ia telah melakukan pekerjaan jahat atau tindak korupsi itu.

Karena menyangkut bukti keberadaan manusia dalam kehidupan sosial, maka bekerja tidak mengenal batas waktu. Selama hayat masih dikandung badan, maka pekerjaan itu akan melekat pada seseorang.

Allah SWT mengingatkan kita akan hal ini: "Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (QS Alam Nasyrah: 7).***/sumber: republika.co.id


 
Berita Terbaru >>
Jangan Perlahan untuk Menunaikan Zakat
Sekdaprov Riau Apresiasi Bazar UMKM di Kantor Penghubung Jakarta
Beri Motivasi Kafila Riau, Wagubri Kunjungi Arena MTQ Nasional di Sumbar
Gubri: Riau Hijau, Wujud Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Gubri: Tinggal Satu Zona Merah Covid -19 di Riau, Tetap Waspada
Gubernur Riau Pertama Dapat Gelar Pahlawan Nasional, Gubri: Jadikan Motivasi
Saksikan Tari Zapin Api di Rupat Utara, Gubri: Tarian Ini Penuh Magis dan Mistik
Diserahkan Presiden Secara Virtual, Riau Terima 17.688 Sertifikat Untuk Rakyat
Gubri Lakukan Groundbreaking SPAM Pekanbaru-Kampar, Airnya Bisa Langsung Diminum
Gubri Pimpin Rakor Penegakan Perda 4/2020 Tentang Kesehatan
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2017 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com