Selasa, 31 Januari 2023
Follow:
Home
Indahnya Sulut dari Gunung Turun ke Laut
Rabu, 28/September/2022 - 08:10:37 WIB
  Gunung Lokon tampak megah dilihat dari Kota Tomohon.(pjs,wina)
 
TERKAIT:
   
 
Catatan Perjalanan Wina MM

AKIBAT terlambat memesan tiket, keberangkatan aku dan suami ke Ternate terpaksa ditunda.  Tak ada lagi penerbangan menuju kota tersebut karena hanya ada satu penerbangan dari Manado menuju  Maluku Utara pada hari itu.

Ini menjadi kabar baik, sebab aku bisa kembali berkeliling di Kota Manado dan Tomohon yang belum sempat ku jelajahi. Dan aku tak perlu lagi bermimpi melihat indahnya Kota Tomohon dan megahnya  gunung Lokon.  Ya besok aku akan segera kesana, ke kota bunga itu.

Makam Imam Bonjol

Jarak tempuh ke Kota Tomohon sekitar 25 km dari Kota Manado, untuk sampai kesana akan memakan waktu  1 jam perjalanan.

Dalam perjalanan menuju Kota Tomohon kita akan melalui beberapa kecamatan, seperti Pineleng, Warembungan, Minahasa dan lainnya.

Pineleng  merupakan kecamatan paling ujung dari Kota Manado. Di tempat ini terdapat Makam Tuanku Imam Bonjol tepatnya di Jalan Pineleng-Kali, Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Di Desa Lotta terdapat sebuah bangunan bagonjong seperti rumah adat minang bercat putih berukuran 15 x 7 meter yang berada di atas lahan seluas 75 x 20 meter. Di dalamnya terdapat sebuah makam yang dikelilingi oleh pagar dari rantai besi.

Di batu nisan makam tersebut tertulis "Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin Gelar Tuanku Imam Bonjol” Pahlawan Nasional lahir pada tahun 1774 di Tanjung Bungo, Bonjol, Sumatera Barat. Wafat pada 6 November 1854 di Lotta, Minahasa dalam pengasingan Pemerintah Kolonial Belanda.

Inilah Makam Tuanku Imam Bonjol, ulama sekaligus pejuang kemerdekaan yang dibuang ke Minahasa oleh Belanda.

Tak banyak yang akan aku ceritakan tentang Tuanku Imam Bonjol, sebab sudah banyak buku yang menuliskan sejarah pahlawan nasional satu ini.  Kita tinggalkan Pineleng dengan makam Imam Bonjolnya.

Makam Tuanku Imam Bonjol di Lotta, Pineleng, Minahasa, Sulut (ft.net)

Menagih Keindahan Lokon dan Krisan

Perjalanan ke Tomohon kali ini kami ditemani oleh seorang kawan yang tinggal di Manado, Bung Nando sapaannya.  

Sepanjang perjalanan ke Tomohon, kita disuguhkan banyak pemandangan indah. Bukit dan tanjakan  dihiasi bunga dan pohon hijau memanjakan mata setiap orang yang berlalulalang.

Memasuki kota sejuk ini  kita disambut  gunung Lokon ikon Kota Tomohon. Terletak di sebelah barat Kota Tomohon, Gunung Lokon mempunyai ketinggian 1.580 meter. Gunung berapi aktif  ini menyajikan panorama pegunungan dengan kawah yang sangat indah.

Puncak gunung Lokon berjarak sekitar 5.300 meter di sebelah barat laut dari Kota Tomohon dan sekita 6.700 meter di sebelah barat daya dari Kota Kecamatan Pineleng. Dari ibukota Provinsi Manado jaraknya hanya sekitar 20 kilometer di barat daya kota.

Gunung indah ini  pernah beberapa kali meletus diantaranya terjadi pada  tahun 1991 dan 2011.

Pada letusan Oktober 1991 menimbulkan kerugian material mencapai Rp 1 miliar. Ribuan jiwa penduduk di Desa Kakaskasen I, Kakaskasen II, Kinilow dan Tinoor, ketika itu warga setempat diungsikan besar-besar ke sejumlah daerah yang dinilai tidak rawan karena  atap ribuan rumah penduduk hancur dihantam batu dan debu setebal 15 sampai 20 cm.

Kemudian meletus pada 2011, sebagian wilayah Kota Manado yang berjarak sekitar 25 Km dari gunung itu, ditutupi hujan debu yang mengguyur karena tiupan angin. Material debu yang dikeluarkan dari kawah gunung api ini berbentuk lava pijar dan ketinggiannya diperkirakan mencapai 400 meter.

Meski mengalami beberapa kali letusan, pesona Lokon tak memudar sedikitpun.  Apalagi jika dinikmati dari kawasan perbukitan Desa Woloan Dua di Kecamatan Tomohon Barat. Posisi bukit  yang strategis seolah langsung berhadap-hadapan dengan si Lokon yang tampan.

Kabut tipis yang menyelimuti gunung bahkan terlihat dengan jelas bila kita berada di sini saat pagi hari. Kehijauan natural dari pepohonan Gunung Lokon turut serta memperindah visual bukit-bukit di sekitarnya.

Kabut tipis manambah keindahan Lokon dari perbukitan desa Woloan Dua. (ft. pjs wina)

Bukan hanya Lokon, Tomohon juga dikenal dengan keragaman jenis bunga Krisan yang tumbuh di kota subur ini. Pada siaran pers Balitbang, Kementerian Pertanian beberapa waktu lalu menyebut, saat ini terdapat sekitar 20 jenis varietas unggul bunga krisan yang dikembangkan dan dibudidayakan oleh kelompok tani di Tomohon. Kota Bunga ini merupakan salah satu sentra tanaman hias di Indonesia.

Bunga Krisan atau biasa disebut bunga Seruni oleh masyarakat Manado menjadi bunga yang banyak di favoritkan oleh pencinta tanaman hias. Bunganya tidak hanya indah namun juga unggul dari aneka warna-warni sehingga membuatnya terlihat lebih semarak dimanapun bunga ini diletakkan.Selain itu aromanya yang khas dan lembut  bisa menjadi bahan tambahan dalam seduhan teh sehingga terasa lebih wangi.

Pesona bunga Krisan juga menjadi ikon Kota Tomohon, tak heran jika setiap tahun diselenggarakan “Tomohon Internasional Festival Flower” (TIFF). Festival bunga  ini biasanya digelar pada 8 hingga 14 Agustus, diikuti oleh ribuan peserta bahkan dari manca negara.

“Sempat terhenti dua tahun belakangan akibat wabah Covid-19, festival bunga Tomohon tahun ini kembali diselenggarakan,” kata Bung Nando menjelaskan.

Bunga Krisan menjadi varietas unggulan di Kota Tomohon (ft net)

Kembali ke Kota Tinutuan

Puas menikmati keindahan Tomohon, kami pun kembali ke Manado. Pesona Manado tak kala menarik dari kota lain di Indonesia, terlebih lagi kulinernya. Budaya makan–makan menjadi ciri warga Manado, tak salah jika daerah ini berjuluk Kota Tinutuan si Bubur Manado.  

“Belum sah rasanya bagi warga Manado jika berkumpul kalau tidak dibarengi makan-makan,” kata Bung Nando yang masih setia menemani kami berwisata.

Tinutuan atau bubur Manado dibuat dari nasi dengan campuran bahan lain seperti labu, ubi, jagung dan aneka sayuran seperti bayam dan kemangi. Diracik dengan bumbu khas Manado yang dihaluskan membuat aroma Tinutuan semakin menggiurkan. Menyantap Tinutuan belum lengkap tanpa ikan asin dan sambal terasi. Selain Tinutuan, Tuna bakar  dan ikan kuah terang tidak bisa dilewatkan.

Manado juga  memiliki beragam panganan tradisional seperti koyabu, lalampa, nasi jaha, minyolos  dan biapong  yang tak kalah menggugah selera. Aneka panganan ini dengan mudah kita jumpai di pasar-pasar tradisional bahkan di kafe-kafe yang ada di Manado.

Selain kuliner, Manado juga memiliki keindahan alam seperti taman laut Bunaken dan Pulau  Manado Tua.

Tinutuan(bubur manado) menjadi ikon kuliner Kota manado (ft.pjs Wina)

Pulau Manado Tua

Konon Pulau Manado Tua merupakan asal muasal Kota Manado. Pulau Manado Tua, Bunaken, Siladen, Mantehage, dan Nani merupakan gugusan pulau yang membentuk Taman Nasional Bunaken-Manado. Taman nasional sekitar 89.065 hektar ini terletak tidak jauh dari Kota Manado. Pulau Manado Tua bisa dicapai dengan kapal motor sekitar satu jam atau berjarak sekitar 10 mil dari Kota Manado. Manado tua terlihat sangat indah dari bibir pantai Kota Manado.

Pulau Manado Tua merupakan  daratan yang berbentuk gunung yang berdiri kokoh di atas ketinggian 655 meter dari permukaan laut yang ditumbuhi pepohonan hijau.

Menariknya puncak dari pulau bukan merupakan gunung merapi aktif. Namun di bawah laut terdapat gunung berapi yang aktif di kedalaman 150 meter. Ini akan terlihat jika kita melakukan diving. Bagi anda yang hoby menyelam waktu terbaik untuk datang ke pulau ini adalah  bulan Juli sampai Agustus.

Pulau Manado Tua terlihat indah dari pinggir pantai Kota Manado. (ft.pjs wina)

Bicara Tomohon, Manado, Bunaken dan Manado Tua tak ada habisnya, Sulawesi Utara  memiliki ratusan pesona keindahan yang patut dijaga dan dilestarikan.  “Sudah cukup julukan Nyiur Melambai saja yang sudah hilang”.(*)

 
Berita Terbaru >>
Ribuan Petasan dan Ragam Pagelaran Seni Meriahkan Imlek Bersama IKTS Pekanbaru
Resmikan Jalan Dua Jalur di Inhu, Ini Pesan Gubernur Syamsuar
Diduga Lakukan Aborsi, Seorang Wanita Tewas di Kamar Hotel
Samanhudi Anwar : Eks Kader PDIP Napi Kasus Suap Hingga Rampok Rumah Walkot
Rindu Pesona Kampung Kedua, Wololo Habari Gorontalo
Rektor UIR Prof Syafrinaldi Beberkan Standar 'Kegentingan Memaksa' Merespon Perppu Cipta Kerja
Mantan Wali Kota Blitar Jadi Otak Perampokan
Gubri Syamsuar : Selamatkan Anak dari Pengaruh Negatif Gadget
Niat Berenang Bersama Teman, Nanang Tenggelam di Kolam PDAM Sorek Satu
DP3AP2KB Tanjab Barat Pastikan Korban TPPO di Bawah Umur Didampingi
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2022 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com