Jumat, 24 Mei 2024
Follow:
Home
Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (9)
Langsung Melayat
Jumat, 31/Maret/2023 - 06:25:25 WIB
  Wina Armada Sukardi, wartawan dan advokat senior serta  Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiya.  
TERKAIT:
   
 
Wina Armada Sukardi

 Dalam dua alenea terakhir puisi karya hamba  berjudul “Matiku Matmu, ” yang hamba buat Novermber 2017, dan telah diterbitkan sebagai salah satu puisi di buku karya tunggal  hamba, “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” tertulis:

Mengapa kau masih meminta  hidup seribu tahun lagi walau kau tahu wafat tua atau muda tak beda.

KAPAN urusan nyawa kita dipanggil oleh Pencipta sekaligus Pemiliknya, tak ada yang tahu tepat. Kita tidak faham kapan bakal mengembuskan nafas teralhir, dimana dan sedang  apa. Usia bukanlah isyarat kemaitan. Tua belum  tentu lebih cepat meninggal. Sebaliknya, muda bukanlah jaminan bakal hidup panjang. Banyak yang masih anak, belia, atau  muda sudah meninggal. Sebaliknya tak  sedikit yang sudah sepuh dan sakit-sakitan pula, tetapi masih terus hidup.

Setiap saat,  tua atau muda, dapat berpisah dengan dunia fana, dengan berjuta alasan.

Kapan kita meninggal  tetap menjadi misteri. Sama dengan dimana dan dalam keadaan bagaimana kita meninggal, tak dapat ditebak.Bisa saja kita meninggal secara di luar dugaan kita.Maka sesunguhnya sholat subuh di mesjid bukanlah hanya untuk orang tua saja.

Selama ini, dalam pengamatan hamba ini, umumnya jemaah sholat di mesjid orang-orang “yang sudah meninggalkan dunia hitam,” alias rambut, kumis atau jenggot sudah tidak hitam lagi. Hampir semuanya sudah memutih alias sudah sempuh.Para jemaah yang rutin sholat di mesjid itu, dalam taksiran saya 80% memang para orang tua.Selebihbya baru yang lebih muda dan anak muda.

Biasanya cuma tiga shaf saja, paling banter 4 shaf.Dari jumlah itu yang muda dapat dihitung dengan jari tangan.

Kenapa kaum mudah jarang yang hadir rutin sholat subuh?Tentu  banyak jawabannya. Mungkin mereka memang jika pagi hari lebih banyak kegiataan ketimbang yang tua-tua, apalagi yang pensiunan. Dengan berbagai kesibukannya, gak sempatlah  jika kaum muda sholat subuh di mesjid. Waktu mereka terbatas.Kalau sholat subuh di mesjid jadwal mereka bakal terganggu.Jadilah mereka memilih sholat subuh di rumah saja.

Boleh jadi juga memang selama ini kita belum memiliki “tradisi “ atawa “budaya” sholat subuh di mesjid. Jadi, sholat subuh di mesjid belum internelazied  atau belum mendarah daging dalam tradisi atau kebudayaan Indonesia. Walhasil, sholat subuh di mesjid memang belum menjadi prioritas mayarakat kita. Jangankan  sholat subuh di mesjid, sholat subuh  di ruma saja jangan-jangan juga jarang. Maka tak begitu menghernkan yang datang sholat subuh di mesjid sangat minim, itupun sebagian besar sudah sepuh.

Kemungkinan lain, sebagian masih beranggapan sholat subuh di mesjid memang lebih cocok untuk mereka yang sudah tua. Alasannya, anak muda kan secara teoritis umurnya masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk hidup lebih lama  lagi. Lebih banyak memperoleh kesempatan melakukan aktivitas keduniawian.Mungkin nanti setelah menjadi tua dan meninggalkan “dunia hitam,” mereka baru gabung ke jemaah mesjid subuh. Sebaliknya para orang tua dipandang lebih banyakwaktu senggang sehingga sholat  subuh di mesjid tak akan menggnggu aktivittas mereka. Apalagi teoritis orang-orang tua kan sering disebut “sudah bau tanah” alias mendekati ajal. Kematian telah mengintip mereka. Wajarlah kalau  dipandang lebih bertaqwa dan mendekatkan diri ke Allah.

“Apakah ada generasi milineal yang sholat subuh di mesjid?” tanya seorang rekan dari Surabaya yang kebetulan selalu mengikuti tulisan “Skesat Serba-Serbi Sholat Subuh.” Hamba jawab, sekali dua kali ada, tapi yang rutin tidak ada.

 “Waduh!” jawabnya seraya menerangkan dia khawatir generasi jemaah sholat subuh di mesjid yang akan datang bakalan lebih sulit lagi ada generasi mudanya.

Setelah sholat subuh   di mesjid  prakteknya kami sering mendengar pengumuman dari pengurus mesjid, adanya warga yang wafat pada tadi malam atau pada jelang subuh. Pengumuman dilantangkan  melalui pengeras suara mesjid. Kalau yang meninggal masih tetangga  sekitar lingkungan kami, biasanya setelah sholat subuh di mesjid, tanpa dikomando, kami para jemaa langsung melayat ke rumah duka.

“Kebiasaan” ini  menguntungkan bagi kami yang masih memiliki banyak kegiatan.Kalau tak melayat setelah sholat subuh, mungkin kami tak sempat melayat.

Pengalaman sebagai jemaah sholat subuh, yang meninggal tidak selalu orang yang sudah tua.Bisa juga yang masih muda yang belum pernah sholat subuh di mesjid.

Fakta ini membuktikan sholat  subuh di mesjid bukan cuma buat para orang tua, tapi juga semua lelaki dewasa. Sholat subuh di Mesjid tak ada hubungan dengan tua atawa muda. Inilah yang membuat saya November 2017 menulis puisi  yang mengabarkan keadaan itu sebagai berikut:

Sholat Subuh di Mesjid
Sholat subuh berjemaah
di mesjid Jakarta
tiga shaf  tak sampai
berjajar  rambut beruban dan raut wajah keriput.
Sementara generasi melenial masih nyenyak tidur
nanti bangun memakai  wangi parfum
berpikir jauh dari bau tanah.
Siang hari setelah  sholat dzahur
pengeras suara dari mesjid mengumumkan
Innailahi wainailaji rojiun
telah wafar si fulan berusia 21 tahun
subuh tadi.

T a b i k *

Bersambung……

Wina Armada Sukardi, wartawan dan advokat senior serta  Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiya. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi.

 
Berita Terbaru >>
Persiapan Kunjungan Presiden, Pekanbaru Fokus pada Kebersihan
Kerusuhan Antara Jukir dan Ojol, Tiga Tersangka Ditangkap
Akademisi UMY: "Revisi UU Penyiaran Membahayakan Kebebasan Pers"
Tidak Ada Jokowi dan Gibran dalam Rakernas PDIP, Ini Alasannya
Risnandar Mahiwa Resmi Dilantik Sebagai Pj Wako Pekanbaru
KPK Investigasi Korupsi PGN, Kerugian Capai Ratusan Miliar
Delapan Tahun Menyamar, Tersangka Kasus Vina, Tertangkap
Sabu Seberat 13 Kg Gagal Diselundupkan di Nunukan
PJS Tolak RUU Penyiaran Baru, Potensi Mengintai Kemerdekaan Pers
Partai Koalisi Mulai Bahas Formasi Kabinet Prabowo-Gibran
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2022 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : redaksi.klikriau@gmail.com