Senin, 08 Juni 2026
Follow:
Home
Catatan Perjalanan : Wina Choswara
Nelayan Kabalutan Diintai Maut dan Stigma Bom Ikan
Rabu, 17 Desember 2025 - 05:45:22 WIB
  Imbauan Polres Tojo Una- una terkait Bom Ikan di Pulau Kabalutan. ( Ft :hms Polres Touna/wina/ist)  
TERKAIT:
   
 
Bagian : (2)

Masih tentang Kabalutan dan Daeng Siri 

SELAIN dijuluki “Kampung Janda”, desa ini juga dikenal dengan sebutan “Kampung Bom Ikan” atau bondet. Julukan tersebut bukan tanpa alasan. Maraknya aktivitas penangkapan ikan menggunakan bahan peledak kerap dikaitkan dengan warga Kabalutan, sehingga  menjadi perhatian serius pihak berwenang. Praktik  ini sangat dilarang karena merusak terumbu karang dan mematikan biota laut disekitarnya.

Menanggapi stigma tersebut, Daeng Siri menjelaskan bahwa sebagian besar warga Kabalutan memang bermata pencaharian sebagai nelayan, sementara sebagian lainnya bekerja di daratan.

“Mata pencarian warga di sini campuran. Sekitar 60 persen nelayan dan 40 persen petani serta pekerjaan lainnya. Namun sekarang sudah terjadi pergeseran, 50 persen ke laut dan 50 persen ke darat serta berkebun,” jelasnya.

Ia tidak memungkiri bahwa praktik pengeboman ikan dilakukan oleh sebagian nelayan Kabalutan. Namun, menurutnya, hal itu  sudah berangsur ditinggalkan. Saat ini, nelayan justru lebih banyak mencari ikan dengan cara menyelam ke dasar laut.

“Saat ini sudah sangat berkurang. Sekarang sebagian warga mencari ikan dengan cara menyelam,” ujarnya.

Perbincangan ku  dengan Daeng Siri tentang kehidupan nelayan Kabalutan pun berlanjut. Daeng Siri mengungkapkan fakta yang memprihatinkan, bahwa bahaya maut kerap mengintai para nelayan saat melakukan penyelaman.

“Di sini hampir setiap bulan ada nelayan yang meninggal. Biasanya karena saat menyelam di kedalaman tertentu mereka kehabisan gas dari kompresor dan tidak sempat naik ke permukaan,” bebernya dengan raut penuh kesedihan.

Sebagai mantan kepala desa yang memahami betul kondisi dan keluhan warganya, Daeng Siri berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah Tojo Una- una.

“Kami berharap ada bantuan dari pemerintah agar kompresor diganti dengan tabung oksigen. Ini untuk mengurangi angka kematian nelayan karena mengancam keselamatan masyarakat. Selama ini bantuan belum ada,”kata Daeng dengan sedikit kecewa, karena pihak berwenang hanya bisa melarang dan memberi imbauan tanpa ada solusi.

Daeng Siri beralasan menyelam dikedalaman terpaksa dilakukan karena sebagian warga tak punya lagi mata pencarian selain sebagai nelayan penangkap ikan.

Ia juga memberikan masukan agar citra Desa Kabalutan tidak terus tercoreng akibat isu bom ikan dan tingginya angka kematian nelayan. Menurutnya diperlukan sinergi antara pemerintah desa dan Dinas Pariwisata.

Ia memandang pemda perlu menempatkan perwakilan khusus sebagai penghubung komunikasi, agar apa yang menjadi keinginan warga bisa tersampaikan.

“Alhamdulillah setiap tahun sudah ada Festival Suku Bajo dan kesadaran masyarakat mulai tumbuh tentang desa wisata. Hampir setiap hari ada orang asing datang ke Kabalutan, meski di sini belum ada penginapan,” ujar Daeng Siri.

Selain air bersih yang sudah terpenuhi, penginapan juga harus tersedia di tanah leluhurnya ini. Daeng yakin, dengan dukungan fasilitas yang memadai, pariwisata Kabalutan akan berkembang pesat di pulau cantik ini.

“Jika pariwisata tumbuh, mata pencaharian akan beralih, dan praktik pengeboman ikan akan semakin berkurang,” tutup Daeng Siri optimis.

Usai berbincang dengan Daeng Siri sang mantan kepala desa, aku pun bersiap menuju destinasi selanjutnya. (*)

Touna, 04, Desember 2025

 
Berita Terbaru >>
Persija Resmi Tunjuk Shin Tae Yong Jadi Pelatih
PDIP Beri Salinan Ijazah Jokowi ke YouTuber Mikhael Sinaga
KPK Tahan Dua Tersangka Baru Korupsi Kuota Haji
Cuaca Panas, Siak Waspadai Karhutla Lahan Gambut
Pemprov Riau Perkuat Pencegahan Kekerasan Perempuan dan Anak
Plt Gubri Apresiasi Strategi TP-PKK Pekanbaru Dongkrak PAD
Masa Jabatan Ingot Berakhir, Syamsuir Jadi Plh Sekda
Setelah Menanti 20 Tahun, Warga Balaikayang Siak Terima Sertifikat Hak Milik
Setahun Menjabat, Afni-Syamsurizal Benahi BUMD, Bangun Jalan ke Pelosok dan Cicil Utang Rp231,7 Miliar
PHR Gelar RUPST Tahun Buku 2025, Perkuat Kemandirian Energi dan Kinerja Berkelanjutan
 


Home

Redaksi | Pedoman Media Siber | Indeks Berita
© 2012-2025 PT Media Klik Riau, All rights reserved.
Comments & suggestions please email : [email protected]