KLIKRIAU.COM,JAKARTA – Suasana belajar di ruang kelas kini mulai berubah. Murid tidak hanya menerima materi, tetapi diajak bereksplorasi dan menghubungkan pelajaran dengan kehidupan nyata.
Perubahan ini dirasakan para guru setelah mengikuti Pelatihan Pembelajaran Mendalam dan Koding Kecerdasan Artifisial (PM-KKA) dari Kemendikdasmen.
Pembelajaran Bermakna di Sekolah
Tri Oktinawati, guru TKIT SD Insan Madani, merasakan manfaat langsung pelatihan tersebut. Baginya, pembelajaran kini menjadi jauh lebih bermakna.
Untuk murid TK, materi fokus pada cara berpikir komputasional, seperti dekomposisi dan pengenalan pola. Menariknya, metode ini justru mengurangi ketergantungan anak pada gawai.
"Pendekatan ini mengurangi screen time anak," ujar Tri.
Sebagai contoh, ia mengajarkan numerasi menggunakan objek nyata seperti bayam. Siswa menghitung jumlah daun sekaligus belajar manfaat kesehatan sayuran tersebut.
Hal serupa dirasakan Muhammad Jiyad Prawira, guru SDN Batu Ampar 01 Jakarta Timur. Ia merasa suasana kelas menjadi jauh lebih hidup.
"Anak-anak kini memahami kaitan materi dengan kehidupan sehari-hari," ungkap Jiyad.
Ia sering mengintegrasikan budaya lokal dengan matematika atau mata pelajaran lain. Strategi ini terbukti membuat siswa lebih antusias dan aktif saat mengikuti pelajaran.
Perluasan Dampak Pelatihan
Kemendikdasmen kini menghadirkan Pelatihan Mandiri PM-KKA agar dampaknya lebih luas. Tujuannya, agar semakin banyak guru bisa mengembangkan kompetensi secara fleksibel.
Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Nunuk Suryani, menjelaskan bahwa program ini adalah penyempurnaan dari tahun sebelumnya.
"Ada tambahan modul dan kesempatan luas untuk pelatihan mandiri," kata Nunuk, Kamis (9/7/2026).
Pendekatan tahun ini menggunakan Teacher Experimental Training (TET). Sekolah dijadikan laboratorium, di mana guru bisa berefleksi melalui forum Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun MGMP.
Peran Guru Sebagai Fasilitator
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menekankan bahwa Pembelajaran Mendalam menempatkan guru sebagai fasilitator aktif. Guru mendampingi murid dengan pendekatan 3P, yakni Presage, Process, dan Product.
"Murid bebas bercerita, berdiskusi, dan membangun keterlibatan dalam belajar," jelas Abdul Mu’ti.
Pemerintah akan menerapkan pendekatan ini pada seluruh mata pelajaran. Oleh karena itu, pelatihan diberikan kepada seluruh guru agar implementasinya lebih kontekstual dan relevan dengan kebutuhan murid.(Rls)